MAKNA PENGERTIAN SHOLLAWAT

PENGERTIAN SHOLLAWAT

Sholawat menurut arti bahasa adalah :‘’ DO‘A‘’
Menurut istilah ada 3adalah:
• Sholawat Alloh SWT kepada Rosululloh SAW berupa Rohmat dan Kemuliaan( Rahmat Tadhim )
• Sholawat dari malaikat yang kepada Kanjeng Nabi SAW berupa permohonan rahmat dan kemuliaan kepada Allah SWT untuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW sedangkan selain Kanjeng Nabi berupa permohonan rahmat dan ampunan
• Sholawat orang–orang yang beriman ( manusia dan jin ) ialah permohonan rohmat dan kemuliaan kepada Allah SWT. untuk Kanjeng Nabi SAW, seperti :
ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD

Dasar membaca Sholawat kepada Kanjeng Nabi SAW adalah :
Firman Alloh SWT dalam surat Al Ahzab ayat. 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
Artinya: ‘‘ sesungguhnya Allah beserta para malaikatnya senantiasa bersholawat untuk Nabi SAW. Hai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkan salam penghormatan padanya (Nabi SAW.).Hukum bersholawat
Mengenai hukum membaca Sholawat, ada beberapa pendapat dari Ulama ada yang Wajib Bil Ijmal, wajib satu kali semasa hidup, adapula yang berpendapat Sunnah .pendapat yang paling masyhur adalah Sunnah mu’akkad akan tetapi membaca Sholawat pada akhir Tasyahhud akhir dari sholat adalah Wajib, oleh karena itu sudah menjadi rukunnya sholat.

Tujuan dari membaca Sholawat adalah Ikraman, tadhiman wa Mahabbah kepada Kanjeng Nabi SAW.
sebagaimana
Dalam Kitab Sa’aadatud-daroin hal 373 disebutkan :
‘Sesungguhnya maksud dari membaca Sholawat kepada Rosululloh SAW, hanya Ta’dhiman atau mengagungkan beliau beserta melahirkan butuh permohan Beliau untuk dimohonkan kepada Alloh SWT dan Rohmat-Nya yang sesuai dengan makom kedudukan keluhuran Rosululloh SAW disisi Alloh SWT. Andaikata tidak demikian, maka Rosululloh SAW sama sekali tidak membutuhkan kepada Sholawat kita, karena Alloh SWT telah melimpahkan bermacam-macam’kesempurnaan kepada beliau yang tidak ada batasnya”.

Dalam Kitab Sa’aadatud Daroini hal..530 diterangkan
“Sesungguhnya Rosululloh SAW itu kekasih Alloh SWT,yang tinggi kedudukannya disisi Alloh SWT, dan sesungguhnya Alloh SWT dan para Malikat-NYA telah berSholawat kepada-Nya. Maka wajiblah mencintai kekasih Alloh SWT dan Taqorrub / mendekatkan diri kepada Alloh SWT dengan mencintai, mengagungkan serta menghaturkan Sholawat kepada kekasih Alloh SWT dan juga mengikuti Sholawat-NYA (Alloh) serta sholawatnya para Malaikatnya Alloh.”

Didalam membaca Sholawat kita perlu memperhatikan adab– adab dalam membaca Sholawat tersebut.
Adapun adab–adab dalam membaca Sholawat antara lain :
• Niat ikhlas beribadah kepada Alloh SWT tanpa pamrih.
• Tadhim dan mahabbah kepada Rosululloh SAW.
• Hatinya HUDHLUR kepada Alloh SWT dan ISTIHDLOR ( merasa berada di hadapan Rosululloh SAW)
• TAWADDU’ ( merendahkan diri ), merasa butuh sekali kepada pertolongan Alloh SWT, butuh sekali Syafa‘at Rosululloh SAW.

Adab tersebut merealisasi sabda Rosululloh SAW, sbb :
Artinya ‘‘ Ketika kamu sekalian membaca Sholawat kepada KU maka bagusilah bacaan Sholawat mu itu . sesungguhnya kamu sekalian tidak mengerti sekirannya hal tersebut diperlihatkan kepadaKU ‘‘

GUS MIEK

Gus Miek atau KH Chamim Djazuli adalah putra dari KH Ahmad Dzajuli Utsaman yang merupakan Muasis Pondok Pesantren Al falah Ploso Kediri, Bagi Gus Miek Al Qur’an adalah tempat mengadukan permasalahn hidupnya yang tidak bisa di mengerti orang lain dengan membaca dan mebdengarkan Al Qur’an, Gusmiek merasakan ketenangan di dalam hatinya, selain sering melakukan ziaroh di makam Auliya Gusmiek dengan Al Quran sebagai media Dialog dengan Allah , Masyarakat dan santri – santri Beliau Gus Miek bagi sebagian orang yang pernah dekat dan mengenalnya, akan terkesan bahwa beliau adalah pengayom atau pelindung rakyat jelata, dengan kebeningan hati beliau, mampu menembus batas kelas dan agama.

Beberapa kisah berikut adalah salah satu yang mewakili dari kisah beliau. Semoga bermanfaat bagi Sami’in setia yang belum pernah mengenal beliau secara dekat dan para pemerhati yang ingin lebih banyak mengetahui tentang Gus Miek.

Kota Surabaya, salah satu kota yang menjadi favorite Gus Miek, dan salah satu tempat yang paling sering beliau singgahi adalah kafe di Hotel Elmi. Suasana malam khas kafe yang gaduh, dimana entakan musik menggebrak malam, dan disudut-sudut ruangan penuh kepulan asap rokok yang menyesakkan dada, berbaur bau alkohol yang menusuk hidung. Disalah satu sudut pojok ruangan kafe terlihat seorang lelaki berwajah teduh sedang mengobrol dikelilingi beberapa orang. Tubuhnya sedang, rambutnya ikal dan diantara jemari tangannya terselip sebatang rokok.

Terdengar kalimat-kalimat yang menyejukkan dan sesekali terdengar tawa segar. Menurut orang-orang yang ada disekelilingnya tersebut, lelaki itu selain ada di kafe ini juga dikenal di beberapa diskotik di Surabaya. Dan mereka semua memberikan julukan “Kyai Nyentrik”.

Itulah dunia K.H. Khamim Jazuli alias Gus Miek. Ia adalah tokoh sentral sema’an Al-Qur’an yang pengikutnya ribuan orang. Sema’an adalah kegiatan membaca dan mendengarkan Al-Qur’an berjama’ah atau bersama-sama, dimana dalam sema’an itu juga selain mendengarkan Al-Qur’an, yang hadir ( sami’in) juga bersama-sama melakukan ibadah sholat wajib secara berjama’ah juga sholat-sholat sunnah yang lain, dari ba’da Subuh hingga khatamnya Al-Qur’an. Gus Miek memiliki seorang istri dan lima orang anak. Beliau dikenang sebagai Kiai yang mengayomi umat, terutama rakyat jelata. Ke khasan gayanya dalam menyebarkan kebenaran sangat langka dan tidak seperti ulama pada umumnya. Lahan garapannya adalah orang-orang pinggiran dan para ”manusia malam”.

Majelis Sema’an mula-mula didirikan dikampung Burengan Kediri sekitar tahun 1986. Mula-mula pengikutnya hanya 10-15 orang. Lama kelamaan berkembang menjadi ribuan. Tempatnya pun tidak hanya di masjid atau dari rumah ke rumah, tetapi sudah memasuki wilayah pendopo kabupaten, Kodam bahkan sampai ke Keraton Yogya.

Dari berkelana timbullah gagasan sema’an Al-Qur’an. Saya ingin benar dan tidak terlalu banyak salah. Maka saya ambil langkah silang dengan menganjurkan pada para santri untuk berkumpul sebulan sekali, mengobrol, guyonan santai, diiringi hiburan. Syukur-syukur jika hiburan itu berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya menemukan pakem bahwa pertemuan seperti itu jika dibarengi membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, syukur-syukur bisa dari awal sampai khatam, Allah akan memberikan rahmat dan nikmatNYA.

Jadi menurut Gus Miek, secara batiniah sema’an Al-Qur’an adalah hiburan yang hasanah, hiburan yang baik. Selain juga merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah, dan sebagai tabungan di hari akhir. Itu yang harus bener-benar diyakini oleh jema’ah sema’an Al-Qur’an. Orang yang mendengarkan dan membaca Al-Qur’an mendapat pahala yang sama. Malah dalam sebuah ulasan seorang ulama dikatakan bahwa orang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an pahalanya lebih besar daripada yang membacanya, sebab pendengar lebih bisa menata hati, pikiran dan telinga serta lebih fokus pada pendekatan diri kepada Allah.

Satu-satunya upaya untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah menurut beliau ialah lewat Majelis sema’an Al-Qur’an ini. Karena berdasarkan sebuah hadis, ”barang siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, maka beradalah ditengah-tengah suatu majelis yang didalamnya mengalun Al-Qur’an.”

Gus Miek memang memiliki kelebihan yang unik. Beliau lebih suka memakai pakaian trendi ketimbang sorban, jubah maupun sarung. Pergaulannya pun sangat luas. ” Saya merasa dituntut menguasai bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati,” tutur beliau.

Pada saat saya masuk diskotik, kafe atau karaoke, saya hanya bisa tertawa. Saya senang tapi saya lebih tertarik pada pendapat seorang ulama dulu, kalau nggak salah namanya Imam Ahmad bin Hanbal. Kalau masuk ke tempat hiburan yang diharamkan oleh Islam, justru Imam Ahmad bin Hanbal malah bergabung dan berdoa, pada saat beliau dipintu masuk pertama. Doa beliau ” Ya Allah, seperti halnya Kau buat orang-orang ini berpesta pora ditempat seperti ini, semoga Engkau jadikan pula mereka berpesta pora di akherat nanti”.

Semasa hidup Gus Miek selalu diburu, bahkan tidak sedikit yang merelakan waktunya berjam-jam dan berhari-hari untuk bertemu walaupun sekedar bersalaman. Tamunya datang dari berbagai golongan, mulai tukang becak, para banci, santri, artis, politikus, pejabat sampai Jendral. Mereka percaya bertemu dengan Gus Miek akan membawa berkah tersendiri. Mereka kebanyakan meminta nasehat tentang berbagai persoalan hidup. Saat beliau berumur 10 tahun sudah banyak didekati orang. ”Bahasa yang datang kepada saya ya itu-itu saja, minta restu, mengungkapkan kekurangan, minta doa mudah mencari rezeki, bahkan orang yang mau melahirkan juga datang kepada saya, dikira saya ini bidan,” tutur beliau seraya terkekeh.

Gus Miek benar-benar rendah hati. ” Saya ini bukan kiai, juga bukan ulama. Saya ini orang yang dipaksa untuk dipanggil kiai. Saya ini hanya orang yang ingin melakukan kebenaran dan tak ingin terlalu banyak salah”, kata beliau. ” Kita ini jangan sekali kali sok suci atau super bersih, sebab didunia ini ada dua penampilan. Pertama, penampilan sebagai manusia satu-satunya dibumi yang paling top, paling suci , paling bersih. Kedua, kebalikannya, sebagai manusia penghuni bumi yang bukan apa-apa. Saya ini hanyalah, insyaAllah kalau dalam jiwa kita sudah tertanam perasaan sebagai hamba Allah, akan tertanam pula rasa dosa, rasa salah, rasa kekurangan, sehingga untuk memohon pengampunan kepada Allah akan lebih besar dan meningkat. Dan itu sulit, termasuk saya sendiri”, tutur beliau

Selain rendah hati beliau juga pribadi yang sangat sederhana. Meski keluarganya di Kediri, namun tak seorangpun tahu keberadaannya. Jika beliau berada di Surabaya lebih sering berada dirumah salah satu sahabat beliau yaitu Bapak Syafi’i, di dekat Masjid Ampel, beliau tak segan-segan tidur di kursi plastik jebol ditemani sebuah teko kuningan berisi teh kental dan dua gelasnya. Tak lupa asbak penuh puntung rokok kretek, karena ia memang dikenal perokok berat.

Karena kerendahan hati serta tak segan-segan membantu orang yang kesusahan tersebut, bisa dimaklumi jika tamunya berjubel, bahkan pernah sampai 18 hari 18 malam tidak tidur karena sibuk menerima tamu. Karena beliau tak kuasa menolak tamu. Bahkan pernah pada saat hadir disema’an, Gus Miek langsung dikerubuti ribuan jama’ah, sampai-sampai harus diselundupkan ke jamaah wanita untuk menghindari serbuan sami’in.

Disamping sema’an Al-Qur’an, beliau juga mendirikan majelis dzikir ”Dzikrul Ghofilin”. Maksudnya adalah dzikirnya orang-orang yang lupa kepada Allah. Seperti halnya sema’an, majelis dzikir yang lazim disebut muzahadah inipun diikuti ribuan jama’ah dengan khusuk. Baik majelis sema’an Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin ini sangat diminati oleh ribuan muslimin terutama daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Gus Miek sejak kecil memang terlihat aneh. Beliau mengaku sering dianggap aneh bahkan tidak jarang ada yang mengatakan tidak waras. ” Dari umur 11 tahun saya seperti orang sakit, orang-orang menganggap saya tidak waras. Lha wong kerjaan saya hanya disungai, memancing terus menerus,” tuturnya

Gus Miek sejak kecil suka mengembara, bahkan orang tuanya pun tidak tahu dimana keberadaan Khamim kecil. Dan oleh Ayahnya ia sudah dianggap anak hilang. Bahkan kebiasaan Gus Miek tersebut berlanjut hingga masa tuanya. Bukan rahasia lagi jika orang sulit mencarinya. Untuk bertemu beliau itu ”jodoh-jodohan” atau ”nasib- nasiban”, kalau jodoh gampang ditemui, tidak dicaripun beliau muncul, tetapi kalau tidak jodoh, dicari-cari kemanapun bahkan sampai satu bulanpun, belum tentu ketemu, kata beberapa sami’in.

Banyak cerita tentang karomah atau kemuliaan yang muncul disekitar kehidupan Gus Miek, yang oleh orang awam dianggap aneh. Diantaranya kemampuan Gus Miek menyembuhkan penyakit hanya dengan air putih. Banyak pula yang bercerita bahwa Gus Miek bisa hadir di dua tempat. Salah satu contoh cerita yaitu saat Kiai Musta’in Romli, pendiri Pondok Pesantren Darul ’Ulum Jombang, dan salah satu seorang mursyid sebuah tarekat meninggal. Ketika itu sang ayahanda Gus Miek yaitu Kiai Ahmad Jazuli akan berangkat takziah. Gus Miek saat itu diajak ikut, tapi beliau menolak, dan memilih tinggal dirumah saja.

Berangkatlah rombongan Kiai Ahmad Jazuli ke Jombang tanpa Gus Miek kecil. Tiba dirumah duka, betapa kagetnya beliau karena melihat Gus Miek sudah berada disana. Bertanyalah beliau kepada kerabat Kiai Mustain, dan jawaban kerabat kiai Musta’in membuat Kiai Ahmad Jazuli tercengang. ” Gus Miek sudah menemani Kiai Musta’in sejak seminggu sebelum almarhum wafat, Kiai ..,”tutur kerabat tersebut.

Cerita unik yang lain ketika pada saat sholat jamaah Jum’at, tiba-tiba Gus Miek hilang. Orang-orang disekitar beliau bingung dibuatnya. Mereka sudah berusaha mencari Gus Miek kesana kemari usai sholat jum’at, namun tetap tidak ketemu. Dengan tiba-tiba Gus Miek muncul dengan membawa seonggok kurma yang ranting-rantingnya masih meneteskan getah segar. Dan mereka yakini bahwa Gus Miek tadi pasti habis sholat jum’at di Mekah.

Pada suatu saat Gus Miek juga terlihat lagi dikelilingi fakir miskin, Gus Miek memberikan uang kepada mereka semuanya. Anehnya uang tersebut diberikan setelah beliau secepat kilat menggerakkan tangan kanannya ke udara, dan mendadak ditangan beliau sudah tergenggam uang segepok.

Kiai kharismatik dan sederhana, kaya dengan karomah serta sangat dekat dengan orang kebanyakan, pembela serta pelindung kaum papa dan miskin ini, tak ayal dianggap seorang Wali ( Orang Suci). Sosok beliau yang pergaulannya dikenal luas ini, wafat di Surabaya tepatnya di Rumah Sakit Budi Mulia, pada 5 Juni 1993, dan dimakamkan di pemakaman para Wali, Tepatnya di Tambak Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kediri. Tempat Makam ini juga beliau penggagasnya.

Sebagai Penerus Putra – Putra Beliau KH Munif Dzajuli beserta putra-putra yang lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makam Auliya’

In Uncategorized on Oktober 6, 2006 at 06:20 pm10

Tidak Hanya Pesantren, Makam Auliaya’ Juga Jadi Tujuan Santri Selama Ramadan

Bagi sebagian orang makam atau kuburan orang yang sudah meninggal adalah hal yang menakutkan, apalagi kalau di makam tersebut dikenal angker.
Namun, ternyata anggapan itu tidak semua benar, buktinya di Makam Auliya’ Tambak Ngadi Mojo Kabupaten Kediri dan Makam Setogono Gedong Kota Kediri justru ramai dikunjungi para peziarah yang belakangan disebut-sebut sebagai santri kuburan alias sarkub khususnya dari kalangan santri yang khusus membidangi hafalan Quran atau Tahfidzul Quran.
Bahkan para sarkub ini rela menginap hingga satu bulan penuh selama Ramadan.Motivasi mereka berlama-lama di makam orang yang selama di dunia dianggap dekat dengan Sang Pencipta adalah mencari berkah di makam para ulama.
Dari beberapa sarkub yang berhasil ditemui RADAR Surabaya khususnya di Makam Auliya’ Tambak Ngadi Mojo Kediri menyatakan bahwa mereka rela menghabiskan bulan Ramadan di makam sebagai sarana tawasul agar lebih dekat kepada Allah sekaligus ‘nglalar’ (melanyahkan) hafalan Quran yang telah diselesaikan 30 juz.
” Tujuan utama kita adalah ngalalar hafalan , sebab selain tempatnya lebih tenang juga karena makam para ulama ini penuh berkah,” Baidlowi santri asal Salatiga Jawa Tengah yang mengaku datang 10 hari sebelum Ramadan 1427 Hijriyah ini.
Dibandingkan nyantri di pesantren luar menurut Baidlowi di makam suasanya lebih tenang,namun tetap saja ada godaannya antara lain pengen melihat suasana luar.
Dari pantauan RADAR Surabaya tidak hanya Baodlowi yang nyantri di kuburan, beberapa yang lainya juga tampak datang silih berganti, bahkan ada diantaranya santriwati yang datang bersama rombongan.
“ Ya kalau Ramadan seperti ini makam sini pastai ramai selain dari pengunjung biasa juga diserbu para santri. Kedatangan mereka juga membawa suasana lain yakni jadi tambah ramai, apalagi mendekatio berbuka mereka ramai-ramai memasak secara bersama-sama,” kata Moh Irfan salah seoarang pengurus makam.
Saat ini di Makam Auliya’ Tambak Ngadi Mojo, makam yang terkenal sepeninggal Almarhum KH Hamim Djazuli ( Gus Mik) ini ada kurang lebih ada 22 ulama yang dimakamkan.
Antara lain, tiga makam Syekh dari timur tengah yang ditemukan almarhum Gus Miek, KH Fatah Tulungagung dan KH Mubusir Mundir Pengasuh Ponpes Ma’unasari Bandar Kidul Kediri sekitar 25 tahun silam. Yakni makam Syekh Maulana Abdul Qodir Khoiri Bin Ismail Al Iskandariyah, Syekh maulana Abdullah Sholeh Al Istambuli dan Syekh Herman Ar Rumani Ar Rumani.
Selain itu masih ada makam-makam yang lain seperti makam Gus Miek, KH Ahmad Sidiq , Jember (mantan Rois Aam PBNU) , KH Anis Ibrahim, KH Sochib Musthofa Al Khafid, KH Ma’ruf, KH Abdul Hamid, KH Yasin Yusuf, KH Rohmad Zubair, KH Hamzah Nur, KH Imtoha, Nyai Hj Dewi Hajar , KH Muslim Manan, KH Bani Askar, KH Asmu’i, KH Dahnan, KH Hamim Hasyim, KH Abdullah Bin H Ihsan dan masih banyak yang lainya lagi yang kesemuanya merupakan teman-teman dekat almarhum Gus Miek dan yang ikut membesarkan Jamiyah Sema’an Al Qur’an Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghofilin.
Keterangan Gus Miek sebelum meninggal, di makam Tambak Ngadi Mojo tersebut nanti akan ada 41 ulama yang akan dimakamkan. Bahkan almarhum juga sempat berujar bahwa ramainya makam Auliyak’ Tambak Ngadi Mojo nanti akan seramai makam Sunan Ampel Surabaya.
Hal itu sedikit membawa kebenaran setelah Gus Miek meninggal pada tahun 1993 lalu. Dimana saat ini makam Auliya’ yang terletak diantara perbatasan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Tulungagung atau 40 kilometer dari Kota Kediri itu selalu menjadi rangkaian tujuan peziarah ke wali songo.
Lalu bagaimana dengan Makam Setonogedong yang didalamnya ada makam yang Mbah Wasil atau yang lebih dikenal Makam Syekh Maulana Syamsuddin ulama dari timur tengah yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Kota Kediri.
Dibandingkan Makam Auliya Tambak Ngadi Mojo, Makam Setonogedong lebih dekat dijangkau bagi para peziarah. Sebab selain tempatnya di pusat kota juga karena jalan menuju makam adalah jalan utama di Kota Kediri yakni Jl Dhoho. (imam Mubarok

 

 

 

 

 

KH Hamim Tohari Djazuli atau akrab dengan panggilan Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940,beliau adalah putra KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat pendiri pon-pes Al Falah mojo Kediri),Gus Miek salah-satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama, khususnya di Jawa Timur. Maka wajar, jika Gus Miek dikatakan pejuang agama yang tangguh dan memiliki kemampuan yang terkadang sulit dijangkau akal. Selain menjadi pejuang Islam yang gigih, dan pengikut hukum agama yang setia dan patuh, Gus Miek memiliki spritualitas atau derajat kerohanian yang memperkaya sikap, taat, dan patuh terhadap Tuhan. Namun, Gus Miek tidak melupakan kepentingan manusia atau intraksi sosial (hablum minallah wa hablum minannas). Hal itu dilakukan karena Gus Miek mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan (alm) KH. Hamid Pasuruan, dan KH. Achmad Siddiq, serta melalui keterikatannya pada ritual ”dzikrul ghafilin” (pengingat mereka yang lupa). Gerakan-gerakan spritual Gus Miek inilah, telah menjadi budaya di kalangan Nahdliyin (sebutan untuk warga NU), seperti melakukan ziarah ke makam-makam para wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa.Hal terpenting lain untuk diketahui juga bahwa amalan Gus Miek sangatlah sederhana dalam praktiknya. Juga sangat sederhana dalam menjanjikan apa yang hendak didapat oleh para pengamalnya, yakni berkumpul dengan para wali dan orang-orang saleh, baik di dunia maupun akhirat.

ayah gus mik KH.Achmad djazuli Usman

 

Gus Miek seorang hafizh (penghapal) Al-Quran. Karena, bagi Gus Miek, Al-Quran adalah tempat mengadukan segala permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang lain. Dengan mendengarkan dan membaca Al-Quran, Gus Miek merasakan ketenangan dan tampak dirinya berdialog dengan Tuhan ,beliaupun membentuk sema’an alquran dan jama’ah Dzikrul Ghofilin.

gus miek selain dikenal sebagai seorang ulama besar juga dikenal sebagai orang yang nyeleneh beliau lebih menyukai da’wah di kerumunan orang yang melakukan maksiat seperti discotiq ,club malam dibandingkan dengan menjadi seorang kyai yang tinggal di pesantren yang mengajarkan santrinya kitab kuning. hampir tiap malam beliau menyusuri jalan-jalan di jawa timur keluar masuk club malam, bahkan nimbrung dengan tukang becak, penjual kopi di pinggiran jalan hanya untuk memberikan sedikit pencerahan kepada mereka yang sedang dalam kegelapan. Ajaran-ajaran beliau yang terkenal adalah suluk jalan terabas atau dalam bahasa indonesianya pemikiran jalan pintas.

Pernah di ceritakan Suatu ketika Gus Miek pergi ke discotiq dan disana bertemu dengan Pengunjung yang sedang asyik menenggak minuman keras, Gus Miek menghampiri mereka dan mengambil sebotol minuman keras lalu memasukkannya ke mulut Gus Miek salah satu dari mereka mengenali Gus Miek dan bertanya kepada Gus Miek.” Gus kenapa sampeyan ikut Minum bersama kami ? sampeyankan tahu ini minuman keras yang diharamkan oleh Agama ? lalu Gus Miek Menjawab “aku tidak meminumnya …..!! aku hanya membuang minuman itu kelaut…!hal ini membuat mereka bertanya-tanya, padahal sudah jelas tadi Gus Miek meminum minuman keras tersebut. Diliputi rasa keanehan ,Gus miek angkat bicara “sampeyan semua ga percaya kalo aku tidak meminumnya tapi membuangnya kelaut..? lalu Gus Miek Membuka lebar Mulutnya dan mereka semua terperanjat kaget didalam Mulut Gus miek terlihat Laut yang bergelombang dan ternyata benar minuman keras tersebut dibuang kelaut. Dan Saat itu juga mereka diberi Hidayah Oleh Alloh SWt untuk bertaubat dan meninggalkan minum-minuman keras yang dilarang oleh agama. Itulah salah salah satu Karomah kewaliyan yang diberikan Alloh kepada Gus Miek.

jika sedang jalan-jalan atau keluar, Gus Miek sering kali mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Tidak lupa, beliau selalu mengenakan kaca mata hitam lantaran lantaran beliau sering menangis jika melihat seseorang yang “masa depannya” suram dan tak beruntung di akherat kelak.

Ketika beliau berda’wak di semarang tepatnya di NIAC di pelabuhan tanjung mas.Niac adalah surga perjudian bagi para cukong-cukong besar baik dari pribumi maupun keturunan ,Gus Miek yang masuk dengan segala kelebihannya mampu memenangi setiap permainan, sehingga para cukong-cukong itu mengalami kekalahan yang sangat besar. Niac pun yang semula menjadi surga perjudian menjadi neraka yang sangat menakutkan

Satu contoh lagi ketika Gus miek berjalan-jalan ke Surabaya, ketika tiba di sebuah club malam Gus miek masuk kedalam club yang di penuhi dengan perempuan-perempuan nakal, lalu gus miek langsung menuju watries (pelayan minuman) beliau menepuk pundak perempuan tersebut sambil meniupkan asap rokok tepat di wajahnya, perempuan itupun mundur tapi terus di kejar oleh Gus miek sambil tetap meniupkan asap rokok diwajah perempuan tersebut. Perempuan tersebut mundur hingga terbaring di kamar dengan penuh ketakutan, setelah kejadian tersebut perempuan itu tidak tampak lagi di club malam itu.

Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH.Ahamad Siddiq yang sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di hatinya, pertama bagaimana perasaan Gus Miek tentang Wanita ? “Aku setiap kali bertemu wanita walaupun secantik apapun dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja jadi jalan untuk syahwat tidak ada”jawab Gus miek.

Pertanyaan kedua Gus Farid menayakan tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu dijalan maupun saat bertemu dengan tamu…”Apabila aku bertemu orang dijalan atau tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku menangis, maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menagis “jawab Gus miek

Adanya sistem Da’wak yang dilakukan Gus miek tidak bisa di contoh begitu saja karena resikonya sangat berat bagi mereka yang Alim pun Sekaliber KH.Abdul Hamid (pasuruan) mengaku tidak sanggup melakukan da’wak seperti yang dilakukan oleh Gus Miek padahal Kh.Abdul Hamid juga seorang waliyalloh.

Tepat tanggal 5 juni 1993 Gus Miek menghembuskan napasnya yang terakhir di rumah sakit Budi mulya Surabaya (sekarang siloam). Kyai yang nyeleneh dan unik akhirnya meninggalkan dunia dan menuju kehidupan yang lebih abadi dan bertemu dengan Tuhannya yang selama ini beliau rindukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dawuh-Dawuh Gus Miek (Text Lengkap)

11/12/2010 — Dunia pesantren

Dhawuh 1

Saya adalah mursyid tunggal Dzikrul Ghofilin.

“Lho, Gus kok berkata begitu bagaimana dengan farid dan syauki..?” tanya Gus Ali sidoarjo.”mereka hanya meramaikan saja” , jawab Gus Miek

Dhawuh 2

Demi Allah, saya hanya bisa menangis kepada Allah, semoga sami’in yang setia, pengamal Dzikrul Ghofilin, semua maslah-masalahnya tuntas diperhatikan oleh Allah.

 

Dhawuh 3

Bila mengikuti Dzikrul Ghofilin, kalau tidak tahu artinya yang penting hatinya yakin.

Dhawuh 4

Barusan ada orang bertanya: Gus, Dzikrul Ghofilin itu apa..? saya jawab: “Jamu”.

Dhawuh 5

Dzikrul Ghofilin itu senjata pamungkas, khususnya menghadapi tahun 2000 ke atas

Dhawuh 6

Ulama sesepuh yang dikirimi fatihah oleh orang-orang yang tertera atau tercantum dalam Dzikrul Ghofilin itu yang akan saya dan kalian ikuti di akhirat nanti.

Dhawuh 7

Dekatlan kepada Allah..! kalau tidak bisa, dekatlah dengan orang yang dekat denganNya.

 

Dhawuh 8

Kemanunggalan sema’an Al Qur’an dan Dzikrul Ghofilin adalah sesuatu yang harus di wujudkan oleh pendherek, pimpinan Dzikrul Ghofilin, dan jama’ah sema’an Al Qur’an. Sebab antara sema’an Al Qur’an kaliyan Dzikrul Ghofilin ingkang sampun dipun simboli kaliyan fatihah miata marroh ba’da kulli shalatin, meniko berkaitan manunggal.

Dhawuh 9

Semoga Dzikrul Ghofilin ini menjadi ketahanan batiniah kita, sekaligus penyangga kita di hari Hisab (hari perhitungan amal). Itulah yang paling penting..!

Dhawuh 10

Nuzulul Qur’an yang bersamaan dengan turunnya hujan ini, semoga menjadi isyarat turunnya petunjuk kepada saya dan kalian semua, seperti firman Allah: “Ulaika ‘ala  hudan min rabbihim wa ulaika hum al-muflihun” (Mereka telah berada di jalan petunjuk , dan mereka adalah orang-orang yang beruntung).

Dhawuh 11

Barusan ada orang yang bertanya: Gus, bagaimana saya ini, saya tidak bisa membaca Al Qur’an..? saya jawab: “Paham atau tidak, yang penting sampean datang ke acara sema’an, karena mendengarkan saja besar pahalanya”.

Dhawuh 12

Sejak sekarang, yang kecil harus berpikir: kelak kalau besar, aku besar seperti apa, yang besar harus berpikir, kalau tua kelak, aku tua seperti apa, yang tua juga harus berpikir, kelak kalau mati, aku mati dalam keadaan seperti apa.

Dhawuh 13

Dalam sema’an ada seorang pembaca Al Qur’an, huffazhul Qur’an dan sami’in. Seperti ditegaskan oleh sebuah hadits: Baik pembaca maupun pendengar setia Al Qur’an pahalanya sama. Malah di dalam ulasan tokoh lain dikatakan: pendengar itu pahalanya lebih besar daripada pembacanya. Sebab pendengar lebih main hati, pikiran, dan telinganya. Pendengar dituntut untuk lebih menata hati dan pikirannya dan lebih memfokuskan pendekatan diri kepada Allah.

 

Dhawuh 14

Satu-satunya tempat yang baik untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah adalah majelis sema’an Al Qur’an. Hal ini tertera di dalam (kalau tidak salah) tiga hadits. Antara lain Man arada an yatakallam ma’a Allah falyaqra’ Al Qur’an (siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, hendaknya ia membaca Al Qur’an).

 

Dhawuh 15

Seorang yang ikut sema’an berturut-turut 20 kali saya jamin apa pun masalah yang sedang dihadapinya pasti akan beres/tuntas.

Dhawuh16

Ada seorang datang kepada saya: “Gus, problem saya bertumpuk-tumpuk, saya sudah mengikuti sema’an 19 kali, tinggal 1 kali lagi, kira-kira masalah saya nanti tuntas atau tidak..?” saya jawab: “yang sial itu saya, kok bertemu dengan orang yang mempunyai masalah seperti itu.”

 

Dhawuh 17

Saya sendiri  sebagai pencetus sema’an Al Qur’an ternyata kurang konsekuen, sementara sami’in datang dari jauh, bahkan hadir sejak subuh, mulai surat Al fatihah dibaca sampai berakhir setelah doa khotmil Qur’an malam berikutnya baru mereka pulang. Sedang saya ini, baru datang kalau sema’an Al Qur’an akan diakhiri. Itu pun tidak pasti. Terkadang saya berpikir, saya ini seorang yang dipaksakan untuk siap dipanggil kiai.

 

Dhawuh 18

Berapa yang hadir setiap sema’an? Jangan  lebih lima persen. Nanti bila sami’innya terlalu banyak, saya hanya menangis dan membaca Al Fatihah, lalu pulang. Saya sadar, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Jangankan untuk orang banyak, untuk satu orang  saja saya tidak bisa.

 

Dhawuh 19

Kalau saya nongol, mungkin tak cukup semalaman. Satu persatu harus dilayani. Saya besok ke mana? Apa yang harus saya lakukan? Kami tidak punya modal? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, Dan, saya dituntut untuk memberikan keterangan yang bisa mereka terima, setidaknya agak menghibur, dengan lelucon atau dengan pengarahan yang pas.

Dhawuh 20

Semoga sema’an dan Dzikrul Ghofilin ini kelak menjadi tempat duduk-duduk dan hiburan anak cucu kita semua.

Dhawuh 21

Alhamdulillah, saya adalah yang pertama memberitahukan kepada “anak-anak” tentang makna dan kegunaan sema’an Al Qur’an. Di tengah maraknya Al Qur’an diseminarkan dan didiskusikan, Alhamdulillah masih ada kelompok kecil yang menyakini bahwa Al Qur’an itu mengandung berkah.

 

Dhawuh 22

Saya mengambil langkah silang dengan mengatakan kepada anak-anak yang berkumpu agar sebulan sekali mengadakan pertemuan, ngobrol-ngobrol, guyon-guyon santai, syukur bisa menghibur diri dengan hiburan yang berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya menemukan satu  pakem bahwa pertemuan yang dibarengi dengan alunan Al Qur’an, membaca dan mendengarkannya, syukur-syukur dari awal sampai akhir, Allah akan memberikan rahmat dan nikmatNya. Jadi, secara batiniah, sema’an Al Qur’an ini menurut saya adalah hiburan yang bersifat hasnah (bernilai baik). Juga, pendekat diri kita kepada Allah dan tabungan di hari akhir. Itu pula yang benar-benar diyakini para pengikut sema’an Al Qur’an.

 

Dhawuh 23

Di bukit ini terdapat 3 tiang kokoh (panutan), yaitu (1) Syaikh Abdul Qodir Khoiri, seorang wali yang penuh kasih, (2) Abdul Sholih As-Saliki, seorang wali yang terus menjaga wudhunya demi menempuh jalan berkah, (3) Muhammad Herman, ia adalah wali penutup, orang-orang terbaik berbaur dengannya. Wahai tuhanku, berilah manfaat dan berkah mereka. Kumpulkan aku bersama mereka.

 

Dhawuh 24

Mengenai tata krama ziarah kubur, selayaknya lahir batin ditata dengan baik. Saya juga berpesan, kalau seseorang berceramah, hendaknya ia tidak meneliti siapa yang dimakamkan, juga riwayat hidupnya. Setidaknya hal demikian ini hukumnya makruh.

Dhawuh 25

Tiga orang yang tidur ini hidup sebelum Wali songo. Orang-orang banyak datang kesini. Demikian juga orang-orang yang sakit, mereka kalau datang ke sini sembuh.

Dhawuh 26

Kelak, bila aku sudah tiada, yang saya tempati ini (makam tambak) bertambah ramai (makmur)

Dhawuh 27

Saya disini hanya ittiba’(mengikuti) kiai sepuh, seperti kiai Fattah dan kiai Mundzir. Di sini, dulu pernah dibuat pertemuan kiai-kiai pondok besar.

Dhawuh 28

Makam ini yang menemukan keturunan Pangeran Diponegaoro. Dulu, desa ini pernah dibuat istirahat oleh pangeran Diponegoro. Di desa ini tidak ada shalat dan tidak ada apapun. Keturunan Diponegoro ini ada dua, yang satu menjadi dukun sunat tetapi kalau berdandan nyentrik, sedang adiknya jadi pemimpin seni jaranan.

Dhawuh 29

Berbaik sangka itu sulit. Jangankan berbaik sangka kepada Allah, kepada para wali dan para kiai sepuh saja sulit.

Dhawuh 30

Di tambak itu, kalau bisa bersabar, akan terasa seperti lautan, dan kalau bisa memanfaatkan, akan banyak sekali manfaatnya. Tapi kalau tidak bisa memanfaatkan, ia akan bisa menenggelamkan.

Dhawuh 31

Huruf hijaiyah itu ada banyak ada ba’, jim, dhot, sampai ya’. Demikian juga dengan taraf ilmu seseorang. Ada orang yang ilmunya cuma sampai ba’, ada orang yang ilmunya sampai jim, ada orang yang ilmunya sampai dhot saja. Nah, orang yang ilmunya seperti itu tidak paham kalau di omongi huruf tha’, apalagi huruf hamzah dan ya’.

Dhawuh 32

Saya bukan kiai, saya ini orang yang terpaksa siap dipanggil kiai. Saya juga bukan ulama. Ulama dan kiai itu beda. Kiai dituntut untuk punya santri dan pesantren. Ulama itu kata jamak yang artinya beberapa ilmuwan. Ketepatan saja saya punya bapak yang bisa ngaji dan punya pesantren. Itu pun tidak ada hubungannya dengan saya yang lebih banyak berkelana. Dari berkelana itu lahirlah sema’an Al Qur’an. Jadi, hiburan “anak-anak” dan saya datang bukan atas nama apa-apa. Hanya salah satu pengikut sama’an Al Qur’an, yang bukan sami’in setia bukan pengikut  yang aktif.

 

Dhawuh 33

Nanti, kalau suamimu berani menjadi kiai harus sanggup hidup melarat.

Dhawuh 34

Akhirnya (maaf), kita menyadari bahwa kaum ulama, lebih-lebih seperti saya, dituntut untuk menggali dana yang lebih baik, dana yang benar-benar halal, kalau kita memang mendambakan ridho Allah.

Dhawuh 35

Di era globalisasi ini kita dituntut untuk lebih praktis, tidak terlalu teoretis. Semua kiai dan ulama sekarang ini dituntut mengerti bahwa dirinya punya satu tugas dari Allah, yakni membawa misi manusiawi.

 

Dhawuh 36

Kalau ingin pondok pesantrennya besar, itu harus kaya terlebih dahulu. Nah, kaya inilah yang sulit.

Dhawuh 37

Pondok pesantren ini, walaupun kecil, mbok ya biarkan hidup, yang luar biar di luar, yang dalam biar di dalam.

Dhawuh 38

Saya punya pertanyaan buat diri saya sendiri: mampukah saya mengatarkan “anak-anak?” Sedang ulama saja banyak yang kurang mampu mengantarkan anak-anak untuk saleh dan sukses. Suksenya diraih, salehnya meleset. Di dalam pesantren sama sekali tidak diajarkan keterampilan. Timbul pertanyaan: Bagaimana anak-anak kami nanti di masa mendatang, bisnisnya, ekonominya, nafkahnya hariannya? Mungkinkah mereka berumah tangga dengan kondisi seperti ini?.

Dhawuh 39

Mbah, manusia itu kalau punya keinginan, hambatannya Cuma dua. Godaan dan hawa nafsu. Kuat cobaan apa tidak, kuat dicoba apa tidak.

Dhawuh 40

Para santri itu lemah pendidikan keterampilannya. Sudah terlanjur sejak awalnya begitu. Tapi Alhamdulillah, di pesantren-pesantren seperti Gontor dan pondok pabelan diajarkan keterampilan-keterampilan. Di sana, keterampilannya ada, tapi wiridannya tidak ada. Saya senang pesantren yang ada wiridannya.

 

Dhawuh 41

Sukses dalam studi belum menjamin sukses dalam hidup. Pokoknya, di luar buku, di luar bangku, di luar kampus, masih ada kampus yang lebih besar, yakni kampus Allah. Kita harus banyak belajar. Antara lain belajar dangdut Jawa, belajar tolak berhala, dan belajar tolak berhala itu sulit sekali! Sulit sekali.

 

Dhawuh 42

Hidup ini sejak lahir hingga mati, adalah kuliah tanpa bangku.

 

Dhawuh 43

Mbah, kamu itu ketika mengaji, jika dipanggil ayah, ibu atau putra-putra ayah, siapa saja itu, jangan menunggu selesai mengaji, langsung saja ditaruh kitabnya, lalu menghadap dengan niat mengaji.

Dhawuh 44

Seorang (santri) yang tak kuat menahan lapar, bahayanya orang (santri) itu di pondok bisa berani banyak utang.

Dhawuh 45

Mbah, kalau kamu menggantungkan kiriman dari rumah, kalau belum dikirim jangan mengharap-harap dikirim, semua sudah diatur oleh Allah.

Dhawuh 46

Sekarang, mencari orang bodah itu sulit, sebab orang bodoh kini mengaku pintar. Kelak, kalau kamu sekolah, berlaku bodah saja. Bagaimana caranya? Pura-pura saja, dan harus bisa pura-pura bodoh. Maksudnya, kamu harus pintar membedakan antara orang bodoh dengan orang yang pura-pura bodoh.

Dhawuh 47

Dunia itu memang sedikit, tapi tanpa dunia, seseorang bisa mecicil (blingsatan).

Dhawuh 48

Jadi orang itu harus mencari yang halal, jangan sampai jadi tukang cukur merangkap jagal.

 

Dhawuh 49

Miskin dunia sedikitnya berapa, tak ada batasannya demikian juga kaya dunia. Seorang yang kaya pasti ada yang di atasnya, seorang yang melarat banyak temannya. Orang kaya pasti ada kurangnya. Ini adalah ilmu Jawa, tidak perlu muluk-muluk mengkaji kitab kuning.

Dhawuh 50

Kamu memilih kaya-sengsara atau melarat-terlunta? Maksudnya, kaya-sengsara itu adalah di dunia diganggu hartanya, sedang di akhirat banyak pertanyaannya.

Dhawuh 51

Gus, tolong saya didoakan kaya. “kaya buat apa?”, tanya Gus Miek. Buat membiayai anak saya. Royan, kamu tak usah khawatir, saya berdoa kepada tuhan agar orang selalu baik dan membantu kamu. Adapun orang yang berbuat buruk atau berniat buruk kepadamu akan saya potong tangannya. Kelak, dirimu saya carikan tempat yang lebih baik dari dunia ini.

 

Dhawuh 52

Royan, kamu ingin kaya ya? Kalau sudah kaya, nanti kamu repot lho.

 

Dhawuh 53

Orang kaya yang masuk surga itu syaratnya harus baik dengan tetangganya yang fakir.

Dhawuh 54

Seorang fakir yang tahan uji, yang tetap bisa tertawa dan periang. Sedang hatinya terus mensyukuri keadaan-keadaannya, masih lebih terhormat dan lebih unggul melebihi siapa pun, termasuk orang dermawan yang 99% hak milinya diberikan karena Allah, tetap saja masih unggul fakir yang saleh tadi.

Dhawuh 55

Saat memimpin doa pada acara haul KH. Djazuli Ustman, Gus Miek membaca Ayyuha ad-dunya thallaqtuka fa’anta thaliqah.(Wahai dunia, aku telah menalak kamu, sungguh aku telah mentalak kamu). Gus Miek lalu berhenti dan berkomentar:

Doa-doa seperti ini janan sampai kalian ikut mengamini, belum mengamini saja sudah senin kemis, apalagi mengamini, bertambah dalam (terperosok) lagi.

Dhawuh 56

Maaf, kalau saya harus mengatakan: Anda sebaiknya punya keterampilan. Jangan malu mengerjakan yang kecil, asal halal. Karena banyak sekali rekanan saya yang malu, misalnya jualan kopi di ujung sana, di sektor informal. Kok jualan kopi sih? Padahal saya mendambakan menjadi karyawan bank, biar terdengar keren dengan gaji tinggi. Kok ini? Kata mereka. Padahal ini halal menurut Allah dan sangat mulia. Sayang, mereka salah menempatkan, menjaga gengsi di hadapan manusia. Nah, ini tidak konsekuen, ini terlanjur salah kaprah. Kalau saya mengatakannya secara salah, saya yang terjepit.

Dhawuh 57

Saya ini kan lain. Walau income resmi enggak ada, tanah tak punya, tapi ada rekanan yang lucu-lucu. Hingga rasa tasyakurlah yang lebih berkobar. Bukan rasa kurang atau yang lain.

Dhawuh 58

Ada satu kios kecil yang isi dengan kebutuhan kampung seperti lombok, beras dan gula, di tempat yang sami’in tidak tahu. Kios itu saya percayakan pada seseorang. Terserah dia! Dan, tidak harus untung. Mungkin dia sendiri harus belajar untuk menerima kenyataan. Termasuk untuk tidak untung.

Dhawuh 59

Jadilah seburuk-buruk manusia di mata manusia tetapi luhur di mata Allah.

Dhawuh 60

Tidak apa-apa dianggap seperti PKI tetapi kelak masuk surga.

Dhawuh 61

Hidup itu yang penting satu, keteladanan.

 

Dhawuh 62

Kunci sukses adalah bergaul, dan di dalam bergaul kita harus ramah terhadap siapa saja. Sedang prinsipnya adalah bahwa pergaulan harus menjadikan cita-cita dan idaman kita tercapai, jangan sebaliknya.

Dhawuh 63

Segala langkah, ucapan, dan perbuatan itu yang penting ikhlas, hatinya ditata yang benar, tidak pamrih apa-apa.

Dhawuh 64

Kalau ada orang yang menggunjing aku, aku enggak usah kamu bela. Kalau masih kuat, silakan dengarkan, tapi kalau sudah tidak kuat, menyingkirlah.

 

Dhawuh 65

Kalau ada orang yang menjelek-jelekkan, temani saja, jangan menjelek-jelekkan orang yang menjelek-jelekkan. Kalau memang senang mengikuti sunnah nabi, ya jangan dijauhi mereka itu karena nabi itu rahmatan lil alamin.

Dhawuh 66

Kita anggota sami’in Dzikrul Ghofilin khususnya, ayo ramah tamah secara lahir dan batin dengan orang lain, dengan sesame, kita sama-sama manusia, walaupun berbeda wirid dan aliran. Kita harus mendukung kanan dan kiri yang sudah terlanjur mantab dalam Naqsabandiyah, Qodiriyah, atau ustadz-ustadz Tarekat Mu’tabarah. Jangan sampai terpancing untuk tidak suka, tidak menghormati pada salah satu wirid yang jelas muktabar dengan pedoman-pedoman yang sudah terang, khusus dan tegas

Dhawuh 67

Tadi ada orang bertanya: Gus, saya ini di kampung bersama orang banyak. Jawab saya: Yang penting ingat pada Allah, tidak merasa lebih suci dari yang lain, tidak sempat melirik maksiat orang lain, dengan siapa saja mempunyai hati yang baik, itulah ciri khas pengamal Dzikrul Ghofilin.

Dhawuh 68

Era sekarang, orang yang selamat itu adalah orang yang apa adanya, lugu dan menyisihkan diri.

Dhawuh 69

“Miftah, kamu masih tetap suka bertarung pencak silat?” Tanya Gus Miek. Lha bagaimana Gus, saya ikut, jawab Miftah. “Kalau kamu masih suka (bertarung) pencak, jangan mengharap baunya surga.”

 

Dhawuh 70

Saya lebih tertarik pada salah seorang ulama terdahulu, contohnya Ahmad bin Hambal. Kalau masuk tempat hiburan yang diharamkan Islam, dia justru berdoa: “Ya Allah, seperti halnya Kau buat orang-orang ini berpesta pora di tempat seperti ini, semoga berpesta poralah mereka di akhirat nanti. Seperti halnya orang-orang di sini bahagia, semoga berbahagia pula mereka di akhirat nanti.” Ini kan doa yang mahal sekali dan sangat halus. Tampak bahwa Ahmad bin Hambal tidak suka model unjuk rasa, demonstrasi anti ini anti itu. Apalagi seperti saya yang seorang musafir, saya dituntut untuk lebih menguasai bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati.

Dhawuh 71

Seorang yang diolok-olok atau dicela orang lain, apa itu termasuk sabar? Badanya sakit, anaknya juga sakit, istrinya meninggal, apa itu juga termasuk sabar? Hartanya hancur, istrinya mati, anaknya juga mati, apa itu termasuk orang yang sudah sabar? Seperti  itu tidak bisa disebut sebagai orang sabar, entah sabar itu bagaimana, aku sendiri tidak mengerti.

Dhawuh 72

Tadi, ada orang yang bertanya: periuk terguling, anak-istri rewel, hati sumpek, pikiran ruwet, apa perlu pikulan ini (tanggung jawab keluarga) saya lepaskan untuk mencari sungai yang dalam (buat bunuh diri). Saya jawab: Jangan kecil hati, siapa ingin berbincng-bincang dengan Allah, bacalah Al Qur’an.

Dhawuh 73

Tadi ada yang bertanya: Gus, bagaimana ya, ibadah saya sudah bagus, shalat saya juga bagus, tetapi musibah kok datang dan pergi? Saya jawab: mungkin masih banyak dosanya, mungkin juga bakal diangkat derajat akhiratnya oleh Allah; janganlah berkecil hati.

Dhawuh 74

Orang-orang membacakan Al-Fatehah untukku, katanya aku ini sakit. Aku ini tidak sakit, hanya fisikku saja yang tidak kuat karena aktivitasku ini hanya dari mobil ke mobil, dan tidak pernah libur.

Dhawuh 75

Ada empat macam perempuan yan diidam-idamkan semua orang (lelaki). Perempuan yang kaya, perempuan bangsawan, dan perempuan yang cantik. Tapi ada satu kelebihan yan tidak dimiliki oleh ketiga perempuan itu, yaitu perempuan yang berbudi.

 

Dhawuh 76

Anaknya orang biasa itu ada yang baik dan ada yang jelek. Demikian juga anaknya kiai, ada yang baik dan ada yang jelek. Jangankan anaknya orang biasa atau anaknya kiai, anaknya nabi pun ada yang berisi dan ada yang kosong. Kalau sudah begini, yang paling baik bagi kita adalah berdoa.

Dhawuh 77

Di tengah-tengah sulitnya kita mengarahkan istri, menata rumah tangga, dan sulitnya menciptakan sesuatu yang indah, sedang tanda-tanda musibah pun tampak di depan mata, semua itu menuntut kita menyusun ketahanan batiniah, berusaha bagaimana agar Allah sayang dan perhatian kepada kita semua.

Dhawuh 78

Tadi, ada orang yang bertanya: anak saya nakal, ditekan justru menjadi-jadi, bagaimana Gus? Nasehat orang tua terhadap anaknya janganlah menggunakan bahasa militer, pakailah bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati.

Dhawuh 79

Gus, kenapa Anda menamakan anak Anda dengan bahasa Arab dan non Arab? Begini, alas an saya menamakan dengan dua bahasa itu karena mbahnya dua; mbahnya di sini santri, mbahnya di sana bukan. Mbahnya di sini biar memanggil Tajud karena santri, mbahnya di sana yang bukan santri biar memanggil Herucokro; mbanya di sini biar memanggil sabuth, mbahnya di sana biar memanggil panotoprojo.

Dhawuh 80

Menurut Anda, bagaimana sebaik-baiknya busana muslim itu? Jilbab kan banyak dipertentangkan akhir-akhir ini? Pada akhirnya, seperti penggabungan Indonesia, Siangapura, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Filipina menjadi ASEAN, tidak menutup kemungkinan, ada bahasa dan busana ASEAN. Sehingga siapa pun dengan terpaksa untuk ikut dan patuh. Ya, kita sebagai orang tua harus diam kalau itu nanti terjadi, dan kalau ingin selamat, ya mulai sekarang kita harus berbenah.

Dhawuh 81

Saya kira-kira dituntut untuk lebih menggalakkan ibadatul qalbi (ibadah dalam hati). Mungkin begitu. Sebetulnya putrid rekan-rekan ulama juga sudah banya yang terbawa arus; ya sebagian ada yang masih mengikuti aturan, tetap berjilbab, misalnya. Tetapi ada juga yang tetap berjilbab karena sungkan lantaran orang tuanya mubaligh. Secara umum, sudah banyak yang terbawa arus.

Dhawuh 82

Dunia ini semakin lama semakin gelap, banyak hamba Allah yang bingung, dan sebagian sudah gila. Sahabat Muazd bin Jabbal berkata: “siapa yang ingat Allah di tengah-tengah dunia yang ramainya seperti pasar ini, dia sama dengan menyinari alam ini.”

Dhawuh 83

Memiliki lidah atau mulut itu jangan dibirkan saja, lebih baik dibuat zikir pada Allah, dilanggengkan membaca lafal Allah.

Dhawuh 84

Hadirin tadi ada orang yang bertanya: Gus, pendengar Al Qur’an ini kalau usai shalat fardhu, yang terbaik membaca apa ya? Saya jawab: Untuk wiridan, kecuali kalian yang sudah mengikuti sebagian tarekat mu’tabarah, baik membaca Al Fatehah 100 kali. Ini juga menjadi simbolnya Dzikrul Ghofilin. Resepnya, mengikuti imam Abu Hamid Al Ghazali, yang juga diijasahnya oleh adiknya, Syaikh Ahmad Al Ghazali.

Dhawuh 85

Trimah, kamu pasti mau bertanya: Kiai, wiridannya apa, mau bertanya begitu kan? Tidak sulit-sulit, baca shalawat sekali, pahalanya 10 kali lipat; jangan repot-repot, baca shallallah ‘ala Muhammad, itu saja, yang penting benar.

 

Dhawuh 86

Saya punya penyakit yang orang lain tidak tahu. Saya ini terus terang tamak, takabur yang terselubung, dan diam-diam ingin kaya. Padahal saya punya persoalan khusu dengan Allah. Artinya, saya adalah hamba yang diceramahkan, sedang Allah yang sudah saya yakini adalah sutradara.

Dhawuh 87

Persoalan mengenai hakikat hidup di dunia masih sering kita anggap remeh. Olih karena itu, sangat perlu dilakukan sebentuk muhasabah. Sejauh mana tauhid kita, misalnya. Dan, ternyata kita belum apa-apa. Kita belum menjadi mukmin dan muslim yang kuat.

Dhawuh 88

Taqarrub (pendekatan) kita kepada Allah seharusnya menjadi obat penawar bagi kita. Apa pun yang terjadi, apa pun yang diberikan Allah, syukuri saja. Sayang, terkadang kita belum bisa menciptakan keadaan yang demikian. Kita seharusnya bangga menjadi orang yang fakir. Sebab sebagian penghuni surga itu adalah orang –orang fakir yang baik.

Dhawuh 89

Dahulu, pada usia sekitar 10 tahun, saya sering didekati orang,dikira saya itu siapa. Ungkapan orang yang datang kepada saya itu-itu saja: minta restu atau mengungkapkan kekurangan, terutama yang berhubungan dengan materi. Perempuan yang mau melahirkan juga datang. Dikira saya ini bidan. Karena makin banyak orang berdatangan, lalu saya menyimpulkan: jangan-jangan saya ini senang dihormati orang, jangan-jangan saya ini dianggap dukun tiban juru penolong atau orang sakti.

Dhawuh 90

Surga itu miliknya orang-orang yang sembahyang tepat pada waktunya.

Dhawuh 91

Shalat itu, yang paling baik, di tengah-tengah Al-Fatehah harus jernih pikiran dan hati.

Dhawuh 92

Shalat itu, yang paling baik adalah berpikir di tengah-tengah membaca Al-Fatehah.

 

Dhawuh 93

Coro pethek bodon. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik satu itu rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik dua itu rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk  satu, berbuat baik tiga itu baru untung.

Dhawuh 94

Kalau kamu ingin meningkat satu strip, barang yang kamu sayangi ketika diminta orang, berikan saja. Itu naik 1 strip, lebih-lebih sebelum diminta, tentu akan naik 1 strip lagi.

 

Dhawuh 95

Seorang yang berani melakukan dosa, harus berani pula bertobat.

 

Dhawuh 96

Kalau kamu mengerjakan kebaikan, sebaiknya kau simpan rapat-rapat; kalau melakukan keburukan, terserah kamu saja: mau kau simpan atau kau siarkan.

Dhawuh 97

Kowe arep nandi Sir? Tanya Gus Miek. Badhe tumut ujian, jawab Siroj. Kapan?  tanya Gus miek . sak niki, jawab Siroj. Golek opo?, Tanya Gus Miek lagi. “Ijasah,” jawab Siroj juga. Lho kowe ntukmu melu ujian ki mung golek ijasah, e mbok sepuluh tak gaekne. Yoh, dolan melu aku.

Artinya:

Kalau kamu ikut ujian hanya untuk ijasah, sini, mau 10 saya buatkan, ayo ikut saya.

Dhawuh 98

“Kamu mau kemana sir?” Mau ngaji. “Biar dapat apa?” Biar masuk surga. “jadi, alasan kamu mengaji itu hanya untuk mencari surga? Jadi, surga bisa kamu peroleh dengan mengaji? Kalau begitu, sudah kitabmu ditaruh saja, ayo ikut bersama saya ke Malang.

Dhawuh 99

Saya katakana kepada anak-anak, Dzikrul Ghofilin jangan sampai diiklankan atau dipromosikan sebagai senjata pengatrol kesuksesan duniawi.

Dhawuh 100

Saya imbau, jangan sampai ada yang berjaga lailatul Qodar, itu ibarat memikat burung perkutut.

Dhawuh 101

Belum tahun 2000 saja sudah begini; bagaimana kelak di atas tahun 2000? Dunia ini semakin lama semakin panas, semakin lama semakin panas, semakin lama semakin panas.

Dhawuh 102

Saya senang orang-orang Nganjuk karena orangnya kecil-kecil. Ini sesuai sabda nabi: “Orang itu yang baik berat badannya 50.” Juga, ada sabda lain yang menguatkan : “Orang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling sedikit makannya.” Ini sesuai firman Allah: Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut (QS. Quraiys: 4).

Lapar adalah syarat untuk menghasilkan tujuan. Maka, siapa tidak senang lapar, ia bukan bagian dari ahli khalwat (menyendiri).

Dhawuh 103

Miftah, kalau kamu nanti sudah pulang dari mondok, jangan suka menjadi orang terdepan.

 

Dhawuh 104

Biarkan dunia ini maju. Akan tetapi, bagi kita umat Islam, akan lebih baik kalau kemajuan di bidang lahiriah dan umumiyah ini dibarengi dengan iman, ubudiyah, serta sejumlah keterampilan positif. Jadi, memasuki era globalisasi menuntut kita untuk lebih meyakini bahwa shalat lima waktu itu, misalnya, adalah senam atau olah raga yang paling baik. Setidak-tidaknya, bagi orang Jawa bangun pagi itu tentu baik. Apalagi kita yang mukmin. Dengan bangun pagi dan menyakini bahwa kegiatan shalat Subuh adalah senam olah raga yang paling baik, otomatis kita tersentuh untuk bergegas selakukan itu.

Dhawuh 105

Sir, kalau kamu mau bertemu aku, bacalah Al-Fatehah 100 kali.

Dhawuh 106

Kalau mau mencari aku, di mana dan kapan saja, silakan baca surah Al-Fatehah.

 

Dhawuh 107

Mbah, kalau kamu mau bertemu aku, sedang kamu masih repot, kirimi saja aku Al-Fatehah, 41kali.

Dhawuh 108

Mencari aku itu sulit; kalau mau bertemu dengan aku, akrablah dengan keluargaku, itu sama saja dengan bertemu aku.

 

 

 

DO’A QUNUT

MEMBACA DO’A QUNUT

Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama mengambil sikap bijaksana dengan menetapkan salah satu madzhab empat sebagai rujukan pengamalan-pengamalan dan penetapan hukum, akan tetapi secara ubudiyah, warga NU banyak yang mengikuti madzhab Syafi’i. Misalnya pada saat shalat Shubuh pada raka’at kedua setelah I’tidal warga kita membaca do’a Qunut.
Pengertian Qunut
Kata qunut berasal dari قَنَتَ يَقْنُتُ قُنُوْتًا yang artinya merendahkan diri kepada Allah. Sedangkan menurut istilah syara’ Qunut adalah membaca do’ a di dalam shalat setelah bacaan i’tidal pada rakaat akhir sambil menengadahkan kedua tangan.
Macam-Macam Qunut
A. Qunut Shubuh
Yaitu do’a qunut yang dibaca setiap shalat Shubuh pada i’tidal rakaat akhir. Sebagaimana hadits Nabi di bawah ini:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا [رواه الجماعة]
Artinya :
“Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SA W. senantiasa membaca do’a qunut pada shalat Shubuh sampai beliau meninggal dunia, (HR. Jama’ah).
عَنِ ابْنِ سِيْرِيْنَ قَالَ : قُلْتُ لأَنَسٍ : قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ؟ قَالَ نَعَمْ، بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَسِيْرًا [رواه البخاري ومسلم]
Artinya:
“Dari Ibnu Sirin dia berkata : saya bertanya kepada sahabat Anas, apakah Rasulullah SAW. itu membaca qunut? Anas menjawab : ya, sejenak sesudah ruku’, (HR. Bukhori Muslim) .
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُ هَذَا الدُّعَاءَ يَعْنِيْ اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ إِلَى آخِرِهِ لِيَدْعُوْا بِهِ فِيْ الْقُنُوْتِ فِيْ صَلاَةِ الصُّبْحِ [رواه البيهقي]
Artinya:
“Dari lbnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW. mengajarkan kepada para sahabat do’a Allahumma ihdini … dst. agar dibaca dalam qunut shalat Shubuh”. (HR. Baihaqi)

B. Qunut Witir
Yaitu do’a qunut yang dibaca ketika shalat Witir di bulan Ramadlan pada separonya yang akhir. Sebagaimana hadits Nabi SAW.
عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: عَلَّمَنِيْ رَسُوْلُُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُوْلُهُنَّ فِيْ الْوِتْرِ: اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ … [رواه أبو داود]
Artinya:
“Dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. dia berkata : “Aku diajari olelh Rasulullah SAW. beberapa kalimat yang aku baca pada shalat Witir, yaitu : Allahumma ihdini ….. dst”. (HR. Abu Dawud)
sebagai berikut lafadz doa qunut
Allah humah dini fiman hadait.
Wa’a fini fiman ‘afait.
Watawallani fiman tawalait.
Wabarikli fimaa a’tait.
Waqinii syarramaa qadzait.
Fainnaka taqdhi wala yuqdha ‘alaik.
Wainnahu layadziluman walait.
Walaa ya’izzuman ‘adait.
Tabaa rakta rabbana wata’alait.
Falakalhamdu ‘ala maaqadzait.
Astaghfiruka wa’atubu ilaik.
Wasallallahu ‘ala Saidina Muhammadinin nabiyil ummiyi waala aalihi wasahbihi wasalam.
C. Qunut Nazilah
Yaitu qunut yang dibaca dalam setiap shalat pada i’tidalnya rakaat yang terakhir, sewaktu kaum muslimin tertimpa musibah. Sebagaimana hadits Nabi SAW. :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الصُّبْحِ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ». مِنَ الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِى سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ.[رواه أبو داود]

Artinya:
“Dari lbnu Abbas ra. dia berkata : Rasulullah SAW. Membaca qunut selama sebulau berturut-turut pada shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dun Shubuh di bagian akhir tiap-tiap shalat yaitu ketika berkata “sami’allaahu liman hamidah” pada rakaat akhir untuk mendo’akan kepada suku Bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwan, dan ‘Ushayyah, dan orang-orang yang di belakang Rasulullah SAW. mengamininya (HR. Abu Dawud).

Hukum Membaca Do’a Qunut
Para fuqoha’ Syafi’iyyah berpendapat bahwa, qunut shubuh dan qunut witir hukumnya sunnat Ab’adl, artinya jika orang yang shalat membacanya, maka dia akan mendapat pahala, dan jika dia lupa tidak membacanya, maka disunatkan sujud sahwi. Sedangkan qunut nazilah hukumnya sunat begitu saja, yakni bagi yang membacanya akan mendapat pahala, dan bagi yang tidak membacanya tidak usah sujud sahwi.
Dalam kitab Fiqih ala Madzahibil Arba’ah juz I hal 244 disebutkan :
الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا: سُنَنُ الصَّلاَةِ الدَّاخِلَةُ فِيْهَا تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ، قِسْمٌ يُسَمُّوْنَهُ بِالْهَيْئَاتِ وَقِسْمٌ يُسَمُّوْنَهُ بِاْلأَبْعَاضِ، فَأَمَّا الْهَيْئَاتُ فَلَمْ يَحْصُرُوْهَا فِيْ عَدَدٍ خَاصٍّ …… وَعَدَدُ اْلأَبْعَاضِ عِشْرُوْنَ: 1- الْقُنُوْتُ فِي اعْتِدَالِ الرَّكْعَةِ اْلأَخِيْرَةِ مِنَ الصُّبْحِ وَمِنْ وِتْرِ النِّصْفِ الثَّانِيْ مِنْ رَمَضَانَ، أَمَّا الْقُنُوْتُ عِنْدَ النَّازِلَةِ فِيْ أَيِّ صَلاَةٍ غَيْرِ مَا ذُكِرَ فَلاَ يُعَدُّ مِنَ اْلأَبْعَاضِ وَإِنْ كَانَ سُنَّةً.
Artinya :
“Ulama Syafi’iyyah berkata : Amalan sunnat di dalam shalat itu ada dua bagian yakni : sunnat hai’at dan sunnat Ab’adl. Bilangan sunnat Abl’adl ada dua puluh : (1) Membaca Do’a Qunut pada I’tidal rakaat akhir shalat shubuh dan ketika shalat witir pada separo yang akhir di bulan Ramadlan. Adapun Qunut Nazilah pada setiap shalat selain shubuh dan witir Ramadlan tidak termasuk Sunnat Ab’adl walaupun status hukumnya tetap sunnat.
Kemudian pada hal : 248 disebutkan :
الْحَنَابِلَةُ قَالُوْا: سُنَنُ الصَّلاَةِ ثَمَانٍ وَسِتُّوْنَ وَهِيَ قِسْمَانِ قَوْلِيَّةٌ وَفِعْلِيَّةٌ، فَالْقَوْلِيَّةُ اثْنَتَا عَشْرَةَ، وَهِيَ دُعَاءُ اْلاِسْتِفْتَاحِ وَالتَّعَوُّذُ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَالْبَسْمَلَةِ …. إِلَى أَنْ قَالَ: وَالْقُنُوْتُ فِي الْوِتْرِ جَمِيْعَ السَّنَةِ.
Artinya :
“Ulama Hanabilah mengatakan : amalan sunnat di dalam shalat itu ada enam puluh delapan, terbagi menjadi dua : Sunnah Qouliyah dan Sunnah Fi’liyah. Sunnah qouliyah ada dua belas : Do’a Iftitah, Ta’awwudz sebelum baca Fatihah, Basmalah, ….. sampai kata-kata Mushonnif : dan membaca qunut pada shalat witir sepanjang tahun”.
Jadi mengenai amaliyah berupa bacaan qunut Shubuh dan witir Ramadlan tetap kita amalkan terus, akan tetapi kita harus menghargai pendapat pihak lain yang tidak mengamalkannya, karena memang ada ulama madzhab selain Imam Syafi’i yang berpendapat bahwa membaca qunut hanya disunnatkan pada shalat witir saja.

SEPAK TERJANG GUSDUR ADDAKHIL

Awal keterlibatan
Latar belakang keluarga Wahid segera berarti. Ia akan diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU. Permintaan ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur dalam menjadi intelektual publik dan ia dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasehat Agama NU. Namun, Wahid akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga. Karena mengambil pekerjaan ini, Wahid juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di sana. Sebagai anggota Dewan Penasehat Agama, Wahid memimpin dirinya sebagai reforman NU.
Pada saat itu, Abdurrahman Wahid juga mendapat pengalaman politik pertamanya. Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah Partai Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 partai Islam termasuk NU. Wahid menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang seperti dirinya. Namun, Wahid selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting seperti Jendral Benny Moerdani.

Mereformasi NU
Pada saat itu, banyak orang yang memandang NU sebagai organisasi dalam keadaan stagnasi/terhenti. Setelah berdiskusi, Dewan Penasehat Agama akhirnya membentuk Tim Tujuh (yang termasuk Wahid) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Reformasi dalam organisasi termasuk perubahan keketuaan. Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan meminta agar ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada era transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto awalnya melawan, tetapi akhirnya mundur karena tekanan. Pada 6 Mei 1982, Wahid mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu ia berkata bahwa permintaan mundur tidak konstitusionil. Dengan himbauan Wahid, Idham membatalkan kemundurannya dan Wahid bersama dengan Tim Tujuh dapat menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya .
Pada tahun 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ke-4 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan mulai mengambil langkah untuk menjadikan Pancasila sebagai Ideologi Negara. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Wahid menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu tersebut. Wahid berkonsultasi dengan bacaan seperti Quran dan Sunnah untuk pembenaran dan akhirnya, pada Oktober 1983, ia menyimpulkan bahwa NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara [17]. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, Wahid juga mengundurkan diri dari PPP dan partai politik. Hal ini dilakukan sehingga NU dapat fokus dalam masalah sosial daripada terhambat dengan terlibat dalam politik.
[sunting]Terpilih sebagai ketua dan masa jabatan pertama
Reformasi Wahid membuatnya sangat populer di kalangan NU. Pada saat Musyawarah Nasional 1984, banyak orang yang mulai menyatakan keinginan mereka untuk menominasikan Wahid sebagai ketua baru NU. Wahid menerima nominasi ini dengan syarat ia mendapatkan wewenang penuh untuk memilih para pengurus yang akan bekerja di bawahnya. Wahid terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional tersebut. Namun demikian, persyaratannya untuk dapat memilih sendiri para pengurus di bawahnya tidak terpenuhi. Pada hari terakhir Munas, daftar anggota Wahid sedang dibahas persetujuannya oleh para pejabat tinggu NU termasuk Ketua PBNU sebelumnya, Idham Chalid. Wahid sebelumnya telah memberikan sebuah daftar kepada Panitia Munas yang sedianya akan diumumkan hari itu. Namun demikian, Panitia Munas, yang bertentangan dengan Idham, mengumumkan sebuah daftar yang sama sekali berbeda kepada para peserta Munas.
Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto dan rezim Orde Baru. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. Pada tahun 1985, Suharto menjadikan Gus Dur indoktrinator Pancasila. Pada tahun 1987, Abdurrahman Wahid menunjukan dukungan lebih lanjut terhadap rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar Suharto. Ia kemudian menjadi anggota MPR mewakili Golkar. Meskipun ia disukai oleh rezim, Wahid mengkritik pemerintah karena proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai oleh Bank Dunia. Hal ini merenggangkan hubungan Wahid dengan pemerintah, namun saat itu Suharto masih mendapat dukungan politik dari NU.
Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular.Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok belajar di Probolinggo, Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyediakan interpretasi teks Muslim.
Gus Dur pernah pula menghadapi kritik bahwa ia mengharapkan mengubah salam Muslim “assalamualaikum” menjadi salam sekular “selamat pagi”.
[sunting]Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru
Wahid terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua NU pada Musyawarah Nasional 1989. Pada saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, mulai menarik simpati Muslim untuk mendapat dukungan mereka. Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk untuk menarik hati Muslim Intelektual. Organisasi ini didukung oleh Soeharto, diketuai oleh Baharuddin Jusuf Habibie dan di dalamnya terdapat intelektual Muslim seperti Amien Rais dan Nurcholish Madjid sebagai anggota. Pada tahun 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung. Gus Dur menolak karena ia mengira ICMI mendukung sektarianisme dan akan membuat Soeharto tetap kuat. Pada tahun 1991, Wahid melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi yang terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial. Organisasi ini diperhitungkan oleh pemerintah dan pemerintah menghentikan pertemuan yang diadakan oleh Forum Demokrasi saat menjelang pemilihan umum legislatif 1992.
Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan dukungan NU terhadap Pancasila. Wahid merencanakan acara itu dihadiri oleh paling sedikit satu juta anggota NU. Namun, Soeharto menghalangi acara tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta. Akan tetapi, acara itu dihadiri oleh 200.000 orang. Setelah acara, Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran. Selama masa jabatan keduanya sebagai ketua NU, ide liberal Gus Dur mulai mengubah banyak pendukungnya menjadi tidak setuju. Sebagai ketua, Gus Dur terus mendorong dialog antar agama dan bahkan menerima undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994.
Masa jabatan ketiga dan menuju reformasi
Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan dirinya untuk masa jabatan ketiga. Mendengar hal itu, Soeharto ingin agar Wahid tidak terpilih. Pada minggu-minggu sebelum munas, pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur. Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat oleh ABRI dalam tindakan intimidasi.Terdapat juga usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga. Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang menggunakan nama ayahnya memiliki popularitas yang besar dan berencana tetap menekan rezim Soeharto. Wahid menasehati Megawati untuk berhati-hati dan menolak dipilih sebagai Presiden untuk Sidang Umum MPR 1998. Megawati mengacuhkannya dan harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markas PDInya diambil alih oleh pendukung Ketua PDI yang didukung pemerintah, Soerjadi.
Melihat apa yang terjadi terhadap Megawati, Gus Dur berpikir bahwa pilihan terbaiknya sekarang adalah mundur secara politik dengan mendukung pemerintah. Pada November 1996, Wahid dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU dan beberapa bulan berikutnya diikuti dengan pertemuan dengan berbagai tokoh pemerintah yang pada tahun 1994 berusaha menghalangi pemilihan kembali Gus Dur. Pada saat yang sama, Gus Dur membiarkan pilihannya untuk melakukan reformasi tetap terbuka dan pada Desember 1996 bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.
Juli 1997 merupakan awal dari Krisis Finansial Asia. Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi tersebut. Gus Dur didorong untuk melakukan reformasi dengan Megawati dan Amien, namun ia terkena stroke pada Januari 1998. Dari rumah sakit, Wahid melihat situasi terus memburuk dengan pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden dan protes mahasiswa yang menyebabkan terjadinya kerusuhan Mei 1998 setelah penembakan enam mahasiswa di Universitas Trisakti. Pada tanggal 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama dengan delapan pemimpin penting dari komunitas Muslim, dipanggil ke kediaman Soeharto. Soeharto memberikan konsep Komite Reformasi yang ia usulkan. Sembilan pemimpin tersebut menolak untuk bergabung dengan Komite Reformasi. Gus Dur memiliki pendirian yang lebih moderat dengan Soeharto dan meminta demonstran berhenti untuk melihat apakah Soeharto akan menepati janjinya.Hal tersebut tidak disukai Amien, yang merupakan oposisi Soeharto yang paling kritis pada saat itu. Namun, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto.
Reformas

Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati

Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

“Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

“Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

“Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

“Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

pengertian dan hukum “shollawat”

الرَّحِيْمِ

Oleh:  Ust. Achmad  Rofi’i, Lc.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Sebetulnya banyak sekali bahasan tentang Sholawat. Ada Kitab khusus yang berkenaan dengan itu, yaitu Kitab Jalaa’ul Al Afhaam Fishsholaati ‘Alaa Khoiril Anaam yang ditulis oleh Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله. Kitab itu tebal, sehingga tidak mungkin kita bahas satu per satu baik huruf maupun halamannya dalam waktu yang singkat, oleh karena itu pembahasan akan kita ambil dari Kitab At Ta’addub Ma’a Rosuulillaahi Fi Dhou’i Al Kitaabi Was Sunnah (Sopan Santun terhadap Rosuulullooh Menurut Al Qur’an dan As Sunnah) yang ditulis oleh Syaikh Hasan Nur Hasan.

Dalam Kitab tersebut, Syaikh Hasan Nur Hasan menulis, bahwa bila dibagi-bagi bahasannya, maka tidak akan kurang dari 5 bahasan yakni:

1. Pengertian Sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم secara bahasa maupun secara istilah

2. Hukum Syar’ie dalam mengucapkan Sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم

3. Redaksi-Redaksi yang terdapat dalam riwayat-riwayat mana yang mengajarkan tentang Sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم.

Kita tahu bahwa Sholawat itu adalah Ibadah. Karena merupakan Ibadah, maka tidak boleh “mengarang sendiri”. Harus ada contoh atau tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan contoh itu sudah ada dan sudah lengkap, serta contoh itu juga harus lah menurut Hadits-Hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang shohiih.

4. Kapan dan dimana kita disyari’atkan mengucapkan Sholawat itu.

5. Pahala dan apa yang akan kita dapat, kalau kita mengucapkan Sholawat.

 

Bahasannya mungkin tidak dapat selesai dalam satu kali tulisan, tetapi bisa dalam beberapa kali. Namun dalam mengkaji Ilmu memang harus bersabar dan kontinyu, dan insya Allooh bahasan akan kita sederhanakan agar praktis dan dapat diketahui serta dengan mudah diamalkan apa yang menjadi Syari’at dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan Sholawat.

 

Pengertian Sholawat

Sholawat dalam bahasa Arab adalah Ash Sholat (الصلاة). Tetapi pengertian umum di negeri kita Indonesia ini, Sholat adalah sholat lima waktu, yaitu yang disebut juga dengan Ash Sholawat Al Maktuubah (الصلوات المكتوبة), atau Sholawat Al Mafruudhoh (الصلوات المفروضة).

Sedangkan yang berkenaan dengan bahasan kita, yaitu Ash Sholat (Sholawat), biasanya ada kalimat berikutnya yaitu “’Alaa”, menjadi: Ash Sholaatu ‘Alan Nabi (الصلاة على النبي), Ash Sholaatu ‘Alar Rosuulillaah صلى الله عليه وسلم الصلاة على رسو الله)), atau Ash Sholawatu ‘Alan Nabi (الصلوات على النبي), Ash Sholawatu ‘Alar Rosuulillaah صلى الله عليه وسلم (الصلوات على رسول الله).

Tetapi, dalam bahasa Indonesia biasanya digunakan kata: Sholawat.

Dalam bahasa Arab, Al Imaam Al Jauhary, Imaam Fairuz Abadiy dan Imaam-Imaam yang lain menyebutkan bahwa yang dimaksud Ash Sholat (Sholawat) secara bahasa, artinya adalahDo’a (Permohonan).

Dalam kamus yang lain, Sholawat juga berarti:

–          Du’aa (Permohonan)

–          Rohmah (Kasih Sayang)

–          Istighfaar (Permohonan ampun kepada Allooh سبحانه وتعالى)

–          Ta’dziim (Pengagungan, penghormatan, sanjungan)

Maka, para ‘Ulama menyatakan bahwa Ash Sholat (Sholawat) bermakna gabungan, yaitu bisa bermakna: Do’a, Kasih Sayang, Permohonan Ampun dan Pengagungan atau Permohonan Barokah dari Allooh سبحانه وتعالى.

Yang paling sering kita pahami adalah Sholat itu berarti Do’a. Bahwa Sholat lima waktu, misalnya, diartikan sebagai Do’a. Karena memang bila kita renungkan, bahwa Sholat lima waktu itu sejakTakbiirotul Ihroom sampai dengan Salaam isinya adalah Do’a. Bahkan selesai sholat pun, kita masih berdo’a Astaghfirullooh, Astaghfirulloooh, Astaghfirullooh, dan seterusnya. Itu semua adalah Do’a.

Adapun pengertian Sholat (Sholawat) atas Nabi صلى الله عليه وسلم, menurut para ‘Ulama maksudnya adalah: “Sanjungan yang baik dari Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuululloohصلى الله عليه وسلم”.

Maka kalau kita membaca dalam Al Qur’an Surat Al Ahzaab (33) ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Artinya:

Sesungguhnya Allooh dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Maksudnya adalah bahwa Allooh سبحانه وتعالى menyanjung, memuji Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Itulah seperti yang dikatakan oleh Al Imaam Fairuuz Aabaadiy.

 

Oleh Imaam yang lain, yaitu Al Imaam Al Jurjaani dalam Kitabnya At Ta’rifaat, beliau mengatakan:

Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم maksudnya adalah memohon kepada Alloohسبحانه وتعالى agar mengagungkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم baik di dunia maupun di akhirat.”

 

Beberapa penjelasan, misalnya adalah perkataan para ‘Ulama yang lain yaitu Al Qodhy Ismaa’iil Al Jahdzomiy, beliau menukil perkataan Abul ‘Aaliyah رحمه الله (sala seorangTaabi’iin), bahwa Sholawat Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, maksudnya adalah memuji (menyanjung)Allooh سبحانه وتعالى memuji, menyanjung Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tetapi Sholawat Malaikat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maksudnya adalah mendo’akan.

 

Imaam Adh Dhohaak, beliau dari kalangan Ahli Tafsir Al Qur’an dan beliau juga adalah Ahli Hadiits, beliau mengatakan: “Allooh سبحانه وتعالى mengucapkan sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maksudnya adalah Allooh سبحانه وتعالى melimpahkan kasih sayang-Nya kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan kalau Malaikat mengucapkan sholawat atas Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم maksudnya adalah mendo’akan.”

Lalu kata beliau lagi, “Sholat Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, artinya adalah Pemberian ampunan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sedangkan dari Malaikat maknanya adalah berdo’a.”

 

Kesimpulannya:

Sholawat Allooh سبحانه وتعالى terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maknanya adalah: Sanjungan, Kasih-Sayang, Ampunan.

Sholawat Malaikat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maknanya adalah: Mendo’akan.

Perkataan Imaam yang lainnya, yaitu Al Imaam Al Haliimiy, penulis Kitab Al Minhaaj, yang diringkas oleh Al Imaam Al Baihaqy رحمه الله dalam Kitab Syu’abul ‘Iimaan, beliau mengatakan: “Kalau kita mengucapkan “Alloohumma Sholli ‘alaa Muhammad”, artinya Sholawat kita kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu bermakna: Mendo’akan untuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلمsupaya Allooh سبحانه وتعالى mengagungkan, meninggikan derajat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan memohon semua itu dari Allooh سبحانه وتعالى.”

Jadi, bukan berarti kita yang mengagungkan, meninggikan derajat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, karena kita tidak bisa melakukan semua itu.

 

Hanya Allooh سبحانه وتعالى yang bisa melakukannya. Dengan demikian, yang benar adalah: Kita memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى : “Ya Allooh, agungkanlah dan tinggikanlah derajat serta berikanlah ampunan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.”

 

Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله dalam Kitabnya yakni Kitab Jalaa’ul Al Afhaam Fishsholaati ‘Alaa Khoiril Anaam, beliau mengatakan:

Sholawat yang diperintahkan kepada kita adalah memohon, meminta kepada Allooh سبحانه وتعالى yaitu tentang apa yang Allooh سبحانه وتعالى beritakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى mengucapkan sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, Malaikat mengucapkan sholawat atas Rosuululloohصلى الله عليه وسلم. Berita ini adalah memohon supaya Allooh سبحانه وتعالى menyanjung, menyatakan, menampakkan keutamaan, kemuliaan dan mendekatkan Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم dengan Allooh سبحانه وتعالى.”

 

Karena itu, Sholawat yang dimaksudkan bahwa didalamnya mengandung berita sekaligus permohonan (do’a) itu mempunyai 2 (dua) perkara:

1. Bahwa Sholawat kita adalah menyanjung, menyebut berbagai kemuliaan dan keutamaan, serta menginginkan dan mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan berharap yang demikian pula dari Allooh سبحانه وتعالى.

Dengan demikian maka ada 2 makna yaitu: Allooh سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia (Alloohسبحانه وتعالى) mengucapkan Sholawat dan kita hendaknya juga mengucapkan Sholawat, sebagaimana hal itu telah diperintahkan-Nya dalam Surat Al Ahzaab (33) ayat 56.

2. Dari kita juga disebutkan Sholawat, adalah agar kita memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى supaya Dia (Allooh سبحانه وتعالى) mengucapkan Sholawat yang artinya adalah menyanjung, mengagungkan, memuliakan serta meninggikan derajat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

 

Kesimpulan:

Yang dimaksudkan dengan Sholawat adalah:

1. Sholawat dari Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم

2. Sholawat dari Malaikat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم

3. Sholawat dari kita (manusia) kepada Rosuullooh صلى الله عليه وسلم.

 

Hukum Ber-Sholawat

Landasannya adalah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 56, sebagaimana telah dijelaskan diatas. Yaitu Allooh سبحانه وتعالى dan Malaikat memberikan sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan memerintahkan kita (manusia) agar juga ber-sholawat kepada beliau صلى الله عليه وسلم.

Bahkan bukan hanya ber-sholawat, tetapi juga merupakan Salam untuk beliau صلى الله عليه وسلم.

Jadi ada 2 bahasan yaitu Sholawat dan Salam. Tentang Salam, kita lebih mengenalnya sepertiAssalamu’alaikum, Assalamu’alaika, Assalamu ‘alan Nabiy Warohmatulloohi Wabarokaatuhu. Itu lebih kita kenal dan mudah dipahami, maka hal ini tidak akan dibahas secara panjang lebar. Namun demikian, insya Allooh tetap akan kita bahas.

Karena Allooh سبحانه وتعالى memberikan sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, serta memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya juga mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Dengan demikian, kita harus meyakini bahwa mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah perintah Allooh سبحانه وتعالى. Bahkan juga merupakan perintah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, bila ada orang yang menyatakan bahwa ia tidak suka dan benci Sholawat, maka itu adalah Salah dan berarti ia bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah.

 

Karena Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah itu meyakini kebenaran Al Qur’an dan Hadiits.

Al Qur’an memerintahkan, lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun memerintahkan. Hal ini menunjukkan bahwa Sholawat itu DIAJARKAN.

Karena diajarkan, maka Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah meyakini bahwa Sholawat itu adalah Ibadah.

Oleh karena merupakan Ibadah, maka kita tidak boleh menggunakan hawa-nafsu atau perasaan atau emosi.

Kalau ada orang yang tidak suka “ber-sholawat sesuai dengan sholawat yang banyak beredar di masyarakat”, maka orang tersebut dikatakan “Kamu benci sholawat ya?”, “Kamu bukan Ahlus Sunnah..” dan seterusnya.

 

Padahal, hendaknya caci maki tersebut ditahan terlebih dahulu, jangan emosional, tetapi hendaknya dipahami mengapa orang tersebut enggan mengucapkan “sholawat sebagaimana yang banyak beredar di masyarakat (seperti: sholawat Nariyah, sholawat Badriyah dll)”.

 

Hal tersebut adalah karena orang tersebut tidak mau mengucapkanSholawat yang redaksinya tidak ada tuntunannya dari Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم atau Sholawat yang tidak Syar’ie sebagaimana yang banyak beredar di masyarakat. Jadi jangan disalah pahami. Bukannya karena dia tidak mau ber-sholawat, tetapi Redaksi Sholawat itu harus lah sesuai tuntunan dan contoh dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Jadi dia tidak mau ber-sholawat dengan redaksi sholawat hasil “karangan manusia”, karena Sholawat itu adalah Ibadah, maka Redaksi (kata-kata) Sholawat itu HARUSLAH yang sesuai dengan Hadits yang Shohiih karena itulah yang berasal dari Wahyu.

Oleh karena itu, sebelum mencaci maki seseorang yang tidak mau ber-“sholawat sebagaimana sholawat yang beredar di masyarakat”, hendaknya dipahami dahulu dengan ‘Ilmu (dien) apa alasannya sehingga dia tidak mau bersholawat dengan redaksi sholawat-sholawat  buatan manusia yang tidak ada landasan dalilnya sama sekali.

Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah meyakini bahwa orang yang membenci ber-Sholawat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu bisa menjadi Kufur, karena berarti ia melawan firman Allooh سبحانه وتعالى.

Hendaknya kita menjadikan Sholawat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah perintah Allooh سبحانه وتعالى, berarti merupakan bagian dari Syari’at Islam, bagian dari Sunnah Rosuul صلى الله عليه وسلم dan bagian dari Ibadah, dimana dengannya kita mendekatkan diri kepada Allooh سبحانه وتعالى.

 

Perkataan Para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah

Al Imaam Abu Bakr Al ‘Aamiry, beliau mengatakan: “Ada pun hukum mengucapkan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم adalah Wajib dengan Ijma’. Jadi Ahlus Sunnah meyakininya sebagai Ijma’. Maka Al Qur’an memerintahkan, As Sunnah memerintahkan dan Ijma’ (kesepakatan para ‘Ulama) juga mengatakan bahwa Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم itu Wajib hukumnya.”

Berarti orang yang tidak ber-sholawat kepada Rosuul صلى الله عليه وسلم itu bisa dikenakan hukum berdosa. Mengapa disebut Wajib? Karena perkara Sholawat itu telah diperintahkan berdasarkan ayat yang mulia seperti telah dijelaskan diatas yakni dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 56.

Akan tetapi Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم itu tidak ditentukan waktunya maupun bilangannya. Berarti tidak boleh ada orang yang membuat ketetapan sendiri bahwa Sholawat itu hendaknya dilakukan pada malam Jum’at dengan sekian kali jumlahnya, dan seterusnya. Karena ketetapan seperti itu tidak ada. Sholawat adalam Ibadah, jadi harus berlandaskan kepada daliil yang shohiih. Tidak boleh kita mengamalkan sesuatu yang tidak ada landasannya dari Wahyu sama sekali.

 

Al Imaam As Sakhoowiy رحمه الله, menukil dari guru beliau yang bernama Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله (Imaam dari madzab Asy Syaafi’iy), kata beliau: “Hukum Sholawat atas Nabi itu ada 10 pendapat:

1. Anjuran (Mustahabbah)

2. Wajib secara umum, tanpa ada batas, minimal satu kali.

3. Wajib satu kali seumur hidup, seperti mengucapkan kalimat Asyhaadu ‘alaa Illaaha Illallooh wa asyhaadu anna Muhammadur Rosuulullooh.

Artinya, kalau ada orang yang seumur hidupnya mengucapkan sholawat kepada Rosuul صلى الله عليه وسلم itu sekali-kalinya, maka ia tidak berdosa. Karena ia telah pernah mengucapkan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم.

4. Wajib minimal dalam satu kali duduk ketika orang mengakhiri sholat antara ia mengucapkanTasyaahud dan Salaam.

5. Wajib hanya dalam Tasyaahud, sedangkan diluar Tasyaahud maka sholawat itu tidak Wajib. Semua sholawat diluar Tasyaahud adalah Sunnah.

6. Wajib dalam sholat, tetapi tidak  ada ketentuan tempatnya (Yang ini sudah terangkum dalam pendapat ke-4 diatas). 

7. Sholawat hendaknya diperbanyak, tanpa boleh menentukan jumlah (banyak) bilangannya.

8. Wajib ketika disebut nama Muhammad (Rosuulullooh). Setiap kita mendengar nama Nabi (Rosuul) Muhammad disebut, maka kita wajib mengucapkan Sholawat.

9. Wajib dalam satu kali Majlis (duduk), kita hendaknya mengucapkan sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم adalah satu kali. Kalau Majlis (duduknya) berulang-ulang, maka Sholawatnya juga berulang-ulang.

10. Wajib dalam setiap berdo’a. Do’a akan menjadi “mandul”, bila tidak disertai ucapan Sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Maka, adab dalam berdo’a adalah:

–          Memuji Allooh سبحانه وتعالى

–          Beristighfar

–          Mengucapkan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم lalu berdo’a (atau do’anya ditutup dengan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم).

Kalau dicermati, sebenarnya 10 pendapat tersebut adalah saling melengkapi. Tetapi dalam pelaksanaannya, sesuai dengan Hadits-Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka sesungguhnya Sholawat itu ada dalam setiap pendapat tersebut.

 

Menumbuhkan Motivasi

Hendaknya kita menumbuhkn motivasi dalam diri kita bahwa kita cinta untuk mengucapkanSholawat dan tidak bakhil (kikir), maka dibawah ini akan disampaikan berbagai daliil dan nashyang mendorong seseorang untuk rajin dan tidak bakhil dalam mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam bentuk menjelaskan keutamaannya.

Keutamaan mengucapkan Sholawat antara lain adalah sebagai berikut:

Menurut Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله dalam Kitabnya: “Sesungguhnya orang yang memohon agar Allooh سبحانه وتعالى memberi sholawat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمadalah termasuk do’a yang paling besar dan paling bermanfaat bagi diri orang tersebut, baik di dunia maupun di akhirat.”

Dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 939, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya:

Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Allooh akan balas dengan sepuluh kali lipat.”

Dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 875, dari Shohabat bernama ‘Abdullooh bin Amru bin Al ‘Ash رضي الله عنه, ia berkata: “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Artinya:

Jika kalian mendengar mu’adzin (– mengucapkan adzan – pent.), maka katakanlah seperti yang diucapkan oleh mu’adzin. Kemudian ucapkanlah oleh kalian sholawat atasku. Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Allooh akan membalas (pahala) sholawat atasnya sepuluh kali lipat.

 

Dalam Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2457, lalu beliau berkata bahwa Hadits ini Hasan Shohiih, demikian pula Syaikh Nashiruddin Al Albaany berkata bahwa Hadits ini Hasan, dari Shohabat Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه, beliau berkata,

 يا رسول الله إني أكثر الصلاة عليك فكم أجعل لك من صلاتي ؟ فقال ما شئت قال قلت الربع قال ما شئت فإن زدت فهو خير لك قلت النصف قال ما شئت فإن زدت فهو خير لك قال قلت فالثلثين قال ما شئت فإن زدت فهو خير لك قلت أجعل لك صلاتي كلها قال إذا تكفى همك ويغفر لك ذنبك

Artinya:

Ya Rosuulullooh, sesungguhnya aku memperbanyak sholawat atasmu, berapa banyak yang harus aku ucapkan sholawat atas engkau itu?

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Semaumu”.

Lalu aku (Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه) berkata, “Apakah seperempat?”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Semaumu, kalau engkau tambah maka itu lebih baik.”

Aku (Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه) bertanya, “Bagaimana kalau setengah?”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Semaumu, kalau engkau tambah, maka itu lebih baik.”

Aku (Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه) bertanya lagi, “Bagaimana kalau dua pertiga?”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Semaumu, kalau engkau tambah, maka itu lebih baik.”

Kata Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه, “Aku jadikan sholawat semua untukmu ya Rosuulullooh.”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Insya Allooh Ta’alaa ucapan yang engkau ucapkan itu akan mencukupi kemauanmu.

Demikianlah, barangsiapa yang mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka Allooh سبحانه وتعالى akan memberi kecukupan atas apa yang menjadi kegundahan dalam hidupnya.

Bahkan dalam sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم selanjutnya: “Dosamu pun akan diampuni.”

Maka bagi siapa yang memiliki banyak problem dalam hidupnya, maka Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun ternyata merupakan bagian dari solusi baginya.

 

Lalu dalam Hadits Riwayat Al Imaam ‘Abdur Rozzaq رحمه الله no: 3114, dari Shohabat Ya’qub bin Tholhah At Taimy رضي الله عنه, beliau berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

أتاني آت من ربي فقال لا يصلي عليك عبد صلاة إلا صلى الله عليه عشرا قال فقال رجل يا رسول الله إلا أجعل نصف دعائي لك قال إن شئت قال ألا أجعل كل دعائي لك قال إذا يكفيك الله هم الدنيا والآخرة

Artinya:

Telah datang kepadaku seseorang yang datang dari Allooh (– maksudnya: Malaikat – pent.),dan berkata, “Siapa saja dari hamba Allooh yang mengucapkan Sholawat atasmu, maka Allooh akan membalas Sholawat itu sepuluh kali lipat.”

Lalu ada orang yang datang dan berkata kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, “Ya Rosuulullooh, kalau aku jadikan setengah doaku untukmu, bagaimana?

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jika engkau mau.”

Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana kalau semua do’a itu untukmu, ya Rosuulullooh?

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Kalau semua itu engkau lakukan, maka Allooh akan memberimu kecukupan dari apa yang engkau gundahkan di dunia maupun dalam perkara akhirat.”

Dalam Hadits yang disebutkan oleh Al Mundziriy رحمه الله dalam Kitab At Targhiib Wat Tarhiibno: 1657, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

من ذكرت عنده فليصل علي ومن صلى علي مرة صلى الله عليه بها عشرا

Artinya:

Barangsiapa yang aku disebut disisinya, kemudian orang itu mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Allooh akan gandakan sepuluh kali lipat.”

Dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad dalam Musnad-nya no: 12017, dan menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth bahwa Hadits ini adalah Shohiih dengan Sanad yang Hasan, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

من صلى علي صلاة واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحط عنه عشر خطيئات

Artinya:

Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka akan Allooh lipatgandakan sepuluh kali dan Allooh hapus sepuluh kesalahan.

Juga dalam Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’i dalam As Sunnan Al Kubro no: 9890, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih At Targhiib Wat Tarhiibno: 1657, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

من صلى علي صلاة واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحط عنه بها عشر سيئات ورفعه بها عشر درجات

Artinya:

Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka akan Allooh lipat-gandakan menjadi sepuluh kali dan dihapus sepuluh kejelekan, dan ditinggikan derajatnya sepuluh derajat.”

Dan dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dalam Kitab Al ‘Aadaabul Mufrood no: 642, menurut Syaikh Nashiruddin Al Albaany Hadits ini adalah Hasan, dari Shohabat Anas dan Maalik bin Aus Al Hadatsaan رضي الله عنهما,

أن النبي صلى الله عليه و سلم خرج يتبرز فلم يجد أحدا يتبعه فخرج عمر فاتبعه بفخارة أو مطهرة فوجده ساجدا في مسرب فتنحى فجلس وراءه حتى رفع النبي صلى الله عليه و سلم رأسه فقال أحسنت يا عمر حين وجدتني ساجدا فتنحيت عني ان جبريل جاءني فقال من صلى عليك واحدة صلى الله عليه و سلم عشرا ورفع له عشر درجات

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم keluar untuk buang air besar. Tidak ada yang mengikuti beliau صلى الله عليه وسلم, akhirnya ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه yang mengikutinya sambil membawa air satu bejana untuk bersuci bagi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Ketika itu beliau صلى الله عليه وسلم menundukkan kepala, lalu ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه berdehem (memberi isyarat), sambil duduk dibelakang beliau صلى الله عليه وسلم. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kemudian mengangkat kepalanya, dan bersabda,

Bagus sekali engkau wahai ‘Umar. Dalam keadaan aku mencari air, engkau membawakan aku air. Jibril datang kepadaku dan mengatakan, “Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Allooh akan lipat-gandakan menjadi sepuluh kali, dan Allooh akan angkat derajatnya sepuluh derajat.”

 

Masih banyak lagi Hadits-Hadits yang sama dan mirip dengan Hadits diatas, yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم itu demikian tinggi nilainya, mudah untuk diamalkan tetapi sangat besar pahala dan keutamaannya.

 

Lalu dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 1664, menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth Hadits ini adalah Hasan Lighoirihi:

عن عبد الرحمن بن عوف قال : خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم فتوجه نحو صدقته فدخل فاستقبل القبلة فخر ساجدا فأطال السجود حتى ظننت ان الله عز و جل قد قبض نفسه فيها فدنوت منه فجلست فرفع رأسه فقال من هذا قلت عبد الرحمن قال ما شأنك قلت يا رسول الله سجدت سجدة خشيت ان يكون الله عز و جل قد قبض نفسك فيها فقال ان جبريل عليه السلام أتاني فبشرني فقال ان الله عز و جل يقول من صلى عليك صليت عليه ومن سلم عليك سلمت عليه فسجدت لله عز و جل شكرا

Artinya:

Dari Shohabat ‘Abdurrohman bin ‘Auf رضي الله عنه, beliau berkata, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم keluar menuju ke tempat shodaqoh, lalu masuk kemudian menghadap Kiblat dan sujud dan memanjangkan sujudnya. Aku mengira bahwa Allooh سبحانه وتعالى telah mencabut nyawanya disaat sujud, maka aku mendekatinya dan duduk, maka tiba-tiba Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengangkat kepalanya dan bertanya, “Siapa ini?”

Aku menjawab, “’Abdurrohmaan.”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bertanya, “Apa urusanmu?”

Aku menjawab, “Ya Rosuulullooh, engkau sujud dengan sujud dimana aku takut Allooh سبحانه وتعالى telah mencabut nyawamu.”

Maka beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku membawa berita gembira dan berkata,“Sesungguhnya Allooh berfirman, barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasmu, wahai Muhammad, dan mengucapkan salam padamu, maka aku (Jibril) pun memberi sholawat dan salam untuk orang itu. Maka aku sujud kepada Allooh سبحانه وتعالى sebagai bagian dari syukurku kepada-Nya.”

 

Juga dalam suatu Hadits sebagaimana dinukil oleh Al Jahdhomy dalam Kitab beliau bernamaFadhlus Sholaat ‘Alan Nabiy no:10, dengan derajat Hasan Lighoirihi, dari Shohabat ‘Abdurrohmaan bin Auf  رضي الله عنه,

عن ابن عوف قال : كان لا يفارق فئ النبي صلى الله عليه وسلم بالليل والنهار خمسة نفر من أصحابه أو أربعة لما ينوبه من حوائجة قال فجئت فوجدته قد خرج فتبعته فدخل حائطا من حيطان الأسواف فصلى فسجد سجدة أطال فيها فحزنت وبكيت فقلت لأرى رسول الله صلى الله عليه وسلم قد قبض الله روحه قال فرفع رأسه وتراءيت له فدعاني فقال : مالك قلت يا رسول الله سجدت سجدة أطلت فيها فحزنت وبكيت وقلت لأرى رسول الله صلى الله عليه وسلم قد قبض الله روحه قال : ( هذه سجدة سجدتها شكرا لربي فيما آتاني في أمتي من صلى علي صلاة كتب الله له عشر حسنات )

Artinya:

Ada 5 orang atau 4 orang sahabat yang tidak pernah berpisah dari fa’i (– harta rampasan perang – pent.) baik di malam hari maupun di siang hari, karena bergiliran memenuhi kebutuhan.”

Beliau (‘Abdurrohman bin Auf) berkata, “Aku datang dan menemui Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمtetapi beliau telah keluar, maka aku ikut dan masuklah pada suatu ladang, sehingga beliau صلى الله عليه وسلم sholat dengan sujud yang beliau صلى الله عليه وسلم panjangkan. Sehingga aku sedih dan menangis dan berkata, ‘Aku melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah dicabut nyawanya oleh Allooh سبحانه وتعالى .

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sujud ini kulakukan sebagai syukurku kepada Robb-ku, disebabkan datangnya pada dalam ummatku, “Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Allooh سبحانه وتعالى akan mencatat untuknya sepuluh kebajikan.”

 

Lalu dalam suatu Hadits sebagaimana dinukil oleh Al Jahdhomy dalam Kitab beliau bernamaFadhlus Sholaat ‘Alan Nabiy no: 978, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Abi Tholhah dari ayahnya رضي الله عنهما, beliau berkata,

خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم والبشر يرى في وجهه فقلنا يا رسول الله نرى البشر في وجهك فقال إنه أتاني الملك فقال إن ربك يقول يا محمد أما يرضيك إلا يصلي عليك أحد من أمتك إلا صليت عليه عشرا ولا يسلم عليك إلا سلمت عليه عشرا

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم keluar kepada kami dengan terlihat pada wajahnya sangat berseri-seri.

Maka kami katakan, “Ya Rosuulullooh, kami melihat pada wajah engkau terdapat sesuatu perkara yang menggembirakan.”

Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya, karena telah datang kepadaku Malaikat yang mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Robb-mu (Allooh سبحانه وتعالى) berfirman, “Apakah engkau ridho wahai Muhammad, karena jika ada seseorang dari ummatmu mengucapkan sholawat atasmu, maka Aku akan mengucapkan kepadanya sepuluh kali. Kalau orang itu mengucapkan salam kepadamu satu kali, maka Aku akan mengucapkan kepadanya sepuluh kali.”

Demikianlah, begitu banyak dalil yang memberikan petunjuk kepada kita agar kita bergiat serta memperbanyak mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena demikian banyak pahala dengan ucapan Sholawat tersebut.

Adapun Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله didalam Kitabnya, menjelaskan bahwa ada 19 (Sembilan belas) faedah dan keuntungan dari mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut, yaitu:

  1. Berarti kita melaksanakan apa yang menjadi perintah Allooh سبحانه وتعالى
  2. Kita bersesuaian dengan Allooh سبحانه وتعالى, walaupun Sholawat Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuul صلى الله عليه وسلم itu berbeda arti dengan Sholawat kita kepada Rosuul صلى الله عليه وسلم, tetapi Allooh سبحانه وتعالى mengucapkan Sholawat dan kita pun mengucapkan Sholawat.
  3. Bersesuaian dengan Malaikat, yang juga mengucapkan Sholawat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
  4. Kita akan mendapatkan 10 kali Sholawat dari kita yang sekali mengucapkan Sholawattersebut.
  5. Kita akan ditingkatkan menjadi 10 (sepuluh) derajat lebih tinggi dengan sekali ber-sholawat.
  6. Kita dicatat mendapat 10 (sepuluh) kebajikan dari sekali ber-Sholawat.
  7. Kita dihapus 10 (sepuluh) kesalahan, setiap kali kita mengucapkan Sholawat.
  8. Bila orang berdo’a kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka diharapkan dengan mengucapkan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم, maka do’anya akan di-ijabah (dikabulkan) oleh Allooh سبحانه وتعالى
  9. Menyebabkan orang mendapatkan Syafa’at dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم  (atas izin Allooh سبحانه وتعالى) di akherat
  10. Menjadi penyebab pengampunan dosa dari Allooh سبحانه وتعالى
  11. Menyebabkan Allooh سبحانه وتعالى memberikan kecukupan kepada orang yang ber-Sholawat.
  12. Menyebabkan orang dekat dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم di akherat
  13. Menyebabkan langgengnya (kekalnya) cinta seseorang kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
  14. Menyebabkan seseorang senang kepada manusia, yaitu mencintai sesama orang yang juga mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
  15. Penyebab terbukanya pintu hidayah bagi orang yang mengucapkan Sholawat. Bahkan hatinya menjadi hidup, peka (sensitif) terhadap hal-hal yang baik.
  16. Termasuk mengucapkan dan menyebutkan nama orang yang membacakan Sholawat itu sendiri.
  17. Merupakan ucapan dari rasa syukur karena Allooh سبحانه وتعالى memberikan kepada kita sehat wal afiyat, kesempatan, rizqy dan seterusnya; yang mana Allooh سبحانه وتعالى memerintahkan kita untuk ber-Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
  18. Mengandung ingatan, rasa terimakasih, dan pengakuan bahwa Allooh سبحانه وتعالى memberi kenikmatan anugerah kepada hamba-Nya dengan cara Allooh سبحانه وتعالى mengutus Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم. Dengan diutusnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka kita ber-Sholawatdan akhirnya kita pun mendapatkan berbagai kebaikan.
  19. Sholawat kepada Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم merupakan do’a dari hamba kepada Allooh سبحانه وتعالى. Do’a yang merupakan permintaan dan do’a yang merupakan ibadah.

Mudah-mudahan setelah penjelasan diatas, kita terbangkit untuk selalu mengucapkan Sholawatatas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Adapun Redaksi Sholawat, mana yang shohiih dan mana yang tidak, insya Allooh akan dibahas pada pertemuan yang akan datang.

Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 7 Jumadil Awwal 1432 H  –  11 Maret 2011

Sumber: http://ustadzrofii.wordpress.com/2011/05/17/sholawat-kajian-1/

 

Sejarah Banser

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes berdiri organisasi kepemudaan Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air yang berdiri di bawah panji Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaidmelalui media khusus telah memiliki anggota 65 orang. Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan disambut baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai elemen unsur pemuda sehingga ratusan pemuda mencatatkan diri sebagai anggota, karena aktifitas organisasi ini menyentuh kepentingan dan kebutuhan pemuda saat itu.

Karena Subbanul Wathan telah diterima baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pemuda maka membentukorganisasi kepanduan yang diberi nama Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air) sebagai inspektur umum kwartir Imam Sukarlan Suryoseputro. Kelanjutan perkembangan organisasi ini sampai apada masalah-masalah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang menitikberatkan pada aspek kebangsaan dan pembelaan tanah air.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri (31 Januari 1926) kegiatan organisasi agak mengendor karena beberapa orang pengurusnya aktif dan disibukkan untuk mengurus organisasi NU.

Atas dasar pemikiran dan upaya Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri pada tahun 1930 mengembangkan dan membangun organisasi yang berpengaruh di tingkat nasional yang diberi nama Nahdlatus Subban (Kebangkitan Pemuda), yang dipimpin oleh Umar Burhan.

Dengan latar belakang pengarahan KH. Abdul Wahab (guru besar kaum muda waktu itu) beliau menyebut beberapa ayat suci Al-Qur’an yang mengisahkan kesetiaan para sahabat Al-Khawariyyin yang tidak kepalang tanggung menolong perjuangan para Nabi menyiarkan ajaran Islam dengan pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam, kemudian Nabi memberi nama penghormatan kepda mereka dengan sebutan Ansor yang berarti mereka yang menolong. Kemudian pada tanggal 24 April 1934 berdirilah organisasi ANO yang berarti Ansoru Nahdlatul Oelama yang dimaksudkan dapat mengambil berkah (Tabarrukan) atas semangat perjuangan para sahabat Nabi dalam memperjuangkan dan membela serta menegakkan agama Allah. Diharapkan kelak senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat ansor yang selalu bertindak dan bersikap sebagai pelopor dalam memberikan pertolongan untuk menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen yang seharusnya senantiasa dipegang teguh oleh para anggota Gerkan Pemuda Ansor.

Melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan Barisan Berseragam yang diberi nama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama) dengan merinci jenis riyadloh yang diperbolehkan:
1. Pendidikan baris berbaris
2. Latihan Lompat dan Lari
3. Latihan angkat mengangkat
4. Latihan ikat mengikat (Pioner)
5. Fluit Tanzim (belajar kode/isyarat suara)
6. Isyarat dengan bendera (morse)
7. Perkmpungan dan perkemahan
8. Beljar menolong kecelakaan (PPPK)
9. Musabaqoh Fil Kholi (Pacuan Kuda)
10. Muromat (melempar lembing dan cakram)

Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan Banser. (Hernoe)